Ini Penyebab Austindo Nusantara Jaya (ANJT) Mengalami Kerugian di 2018

Emiten perkebunan, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. membukukan rugi bersih US$491.612 pada 2018 seiring dengan turunnya harga jual CPO dan Palm Kernel sepanjang tahun lalu. 
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 14 Maret 2019  |  10:35 WIB
Ini Penyebab Austindo Nusantara Jaya (ANJT) Mengalami Kerugian di 2018
Ilustrasi - anj/group.com

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perkebunan, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. membukukan rugi bersih US$491.612 pada 2018 seiring dengan turunnya harga jual CPO dan Palm Kernel sepanjang tahun lalu. 

Berdasarkan laporan keuangan 2018 yang dirilis pada Rabu (13/3/2019), perseroan mencatatkan pendapatan sebesar US$151,70 juta pada 2018, turun 6,24% dibandingkan dengan capaian 2017 sebesar US$161,80 juta. Lebih lanjut, emiten dengan kode saham ANJT ini, mencatatkan rugi bersih US$491.612 pada 2018, berbanding terbalik dengan 2017 yang masih mengantongi laba bersih senilai US$46,54 juta. 

Direktur Keuangan Austindo Nusantara Jaya Lucas Kurniawan mengatakan, kinerja perseroan yang tertekan pada tahun lalu karena turunnya harga CPO. Dia mengatakan, harga jual rata-rata CPO turun 17,91% menjadi US$504 per metrik ton pada 2018. 

"Faktor utama karena harga jual rata-rata CPO turun dari US$614 per mt di 2017 menjadi hanya US$504 per mt di 2018," katanya, Rabu (13/3/2019). 

Di samping itu, harga jual rata-rata palm kernel sebesar US$381 per metrik ton pada 2018, lebih rendah dibandingkan dengan harga jual rata-rata 2017 sebesar US$507 per metrik ton. 

Penjualan CPO dan palm kernel bekontribusi 98,8% terhadap total pendapatan perseroan pada 2018. Sementara itu, pendapatan dari segmen sagu sebesar US$744.700 atau berkontribusi 0,49% terhadap total pendapatan, naik signfikan dari tahun sebelumnya sebesar US$220,400. Hal ini seiring dengan kenaikan volume penjualan dan harga jual. 

Lebih lanjut, segmen energi terbarukan menyumbang US$555.500 untuk pendapatan 2018, lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar US$4,8 juta. Sementara itu, segmen edamame menyumbang US$445.700, naik 24,6% dari US$357.600 pada 2017. 

ANJT juga mengalami rugi kurs mata uang asing sebesar US$2,11 juta, naik dari tahun sebelumnya sebesar US$724.575. Rugi kurs mata uang asing itu disebabkan oleh rugi kurs atas pinjaman dalam dollar AS dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dari Rp13.548 pada akhir 2017 menjadi Rp14.481 pada akhir 2018. 

"Perusahaan menggunakan sejumlah pinjaman dalam dolar AS untuk proyek perkebunan di Papua Barat di mana pembukuan untuk entitas tersebut diselenggarakan dalam rupiah," katanya melalui keterangan remsi. 

Lucas mengatakan, perseroan menyiapkan strategi guna mendorong kinerja perseroan pada tahun ini lebih positif dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perseroan akan melakukan penundaan beberapa pengeluaran belanja modal pada tahun ini karena mempertimbangkan dengan harga jual CPO yang masih rendah.

Perseroan masih mengkaji ulang pos penundaan belanja modal untuk memastikan penundaan ini tidak memengaruhi kinerja perusahaan. Sebagai informasi, perseroan mengalokasikan capex 2019 sebesar US$60 juta, untuk menyelesaikan pembangunan pabrik dan infrastruktur di Papua Barat, penyelesaian frozen line di PT Gading Mas Indonesia Teguh, dan pemeliharaan tanaman yang belum menghasilkan dan pembangunan infrastruktur kebun. 

"Untuk capex 2019 sebesar US$60 juta dengan potensi adanya beberapa pengurangan dari bujet ini sambil mengawasi harga global CPO ke depannya," katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, austindo, pt austindo nusantara jaya

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top