Sempat disanksi AS, Kinerja Raksasa Aluminium Rusal Masih Positif

Rusal, raksasa perusahaan aluminium asal Rusia masih menunjukkan kinerja positif pada tahun lalu, kendati mendapat sanksi dari Amerika Serikat.
Sempat disanksi AS, Kinerja Raksasa Aluminium Rusal Masih Positif Dika Irawan | 07 Maret 2019 15:45 WIB

Bisnis.com, JAKARTA –  Rusal, raksasa perusahaan aluminium asal Rusia masih menunjukkan kinerja positif pada tahun lalu, kendati mendapat sanksi dari Amerika Serikat.

Tercatat, pendapatan perusahaan itu meningkat sebesar 3,1% sepanjang tahun lalu menjadi US$10,28  miliar, dari US$9,96 miliar pada pada 2017.  

Hal itu sejalan dengan pertumbuhan harga alumunium di London Metal Exchange yang meningkat sebear 7,2% menjadi US$2.100 per ton dari US$1.968 per ton.

Sementara itu, laba bersih perusahaan mencapai US$1,69 miliar atau meningkat 39% secara tahunan dari US$1,22 miliar pada 2017.

Chief Executive Officer Rusal Evgenii Nikitin mengatakan, terlepas dari sanksi AS, kinerja setahun penuh Rusal menunjukkan kemampuan manajemen dalam menghadapi krisis. Di samping itu, juga kemampuan beradaptasi dengan lingkungan operasi baru.

“Hal ini mempertahankan posisi pasar Rusal yang kuat melalui kompetensi manajerial yang tinggi dan fleksibilitas operasional,” katanya dalam laman resmi perusahaan, dikutip, Kamis (7/3/2019).

Selain itu, sepanjang tahun lalu, produksi aluminium Rusal mencapai 3.753.000 ton. Meningkat 1,2% dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya. Menurutnya pencapaian itu menunjukkan produksi stabil dengan pemanfaatan kapasitas sebesar 96%.

Nikitin mengatakan, hasil 2018 memperlihatkan posisi Rusal yang solid dalam bisnis intinya. Secara aktif, sambungnya, Rusal juga terus mempromosikan brand aluminium rendah karbon, ALLOW yang telah diterima dengan baik di pasar. Terutama konsumen yang peduli lingkungan.

“Hal ini telah mendorong tujuan Rusal untuk menjadiperusahaan ramah lingkungan,” katanya.

Pasar aluminium pada 2018 sangat dipengaruhi oleh sanksi Kantor Pengawasan Aset Asing Kementerian Keuangan (Office of Foreign Assets Control /OFAC) serta perang dagang dan pengenaan bea impor, sehingga menghasilkan pertumbuhan tarif dan harga yang signifikan.

Ke depan, Nikittin mengatakan, pihaknya berharap permintaan alumuuniumdunia  pulih setelah perang dagang dan guncangan pasokan pada akhir 2018. “Di samping meramalkan pasar China akan defisit pada tahun ini, pihaknya yakin Rusal mampu memanfaatkan tren tersebut.”

Di sisi lain, harga aluminium dunia memperlihatkan tren penurunan dalam setahun terakhir.

Selama setahun belakangan, harga aluminium pernah mencapai level tertingginya di harga US$2.537 per ton. Setelahnya, berangsur-angsur melemah hingga sekarang.

Terakhir, berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (6/3) harga logam itu di London Metal Exchange ditutup melemah 0,43% atau 8,00 poin di level US$1.866 per ton, usai dibuka di level US$1.874 per ton. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
alumunium

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top