Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Kopi Gagal Bangkit di Tengah Surplus

Harga kopi global diperkirakan masih sukar untuk bangkit lantaran dibayangi surplus pasokan global pada tahun ini.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 05 Maret 2019  |  15:46 WIB
Kopi - Bisnis.com
Kopi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Harga kopi global diperkirakan masih sukar untuk bangkit lantaran dibayangi surplus pasokan global pada tahun ini.

Dikutip dari Bloomberg, Selasa (5/3/2019), varietas kopi Arabika menjadi salah satu komoditas dengan kinerja terburuk dalam 2 tahun terakhir.

Di negara produsen top Brasil, para petani berduyun-duyun menanam kopi jenis tersebut selama beberapa tahun terakhir. Alasannya, harganya lebih mahal dibandingkan dengan kopi jenis lainnya. Berkat cuaca yang bersahabat, hal itu menciptakan panen kopi yang lebih banyak.

Sementara itu, pelemahan mata uang Brasil terhadap dolar AS dalam 2 tahun terakhir, telah mendorong ekspor dan menurunkan harga dalam mata uang AS tersebut.

Tercatat, harga kopi arabika berjangka turun sekitar 4% pada tahun ini di level 97,70 sen per pon di bursa New York. Sebaliknya, kopi varietas robusta bernasib lebih baik dengan membukukan kenaikan tipis sejak awal tahun.

Di sisi lain, Amerika Selatan telah menyumbang sebagian besar peningkatan produksi pada musim ini, serta surplus kedua berturut-turut yang akan mencapai 2,3 juta kantong, menurut Organisasi Kopi Internasional.

Beberapa petani berjuang dari persoalan ini. Namun, sulit bagi mereka untuk beralih ke tanaman lain. Pasalnya, pohon kopi bertahan beberapa tahun sekali ditanam. Saat harga rendah, para petani terkadang menghemat pupuk atau memangkas pohon. Namun, hal ini membutuhkan waktu untuk memengaruhi pasokan.

"Harga kopi telah gagal mempertahankan kenaikan di tengah surplus besar," kata Rodrigo Costa, direktur kopi berbasis di AS untuk perusahaan perdagangan Brasil Comexim.

Menurutnya, ketika harga naik, produsen mengambil keuntungan dengan menjual, menunjukkan kepada spekulan bahwa ada persediaan yang tersedia, sehingga mendorong harga turun lagi.

Olam International Ltd., pemasok terbesar kedua di dunia, menyatakan kopi berjangka bisa menguat di tengah surplus yang lebih kecil karena cuaca buruk terjadi di negara-negara seperti Amerika Selatan dan Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg, harga kopi kontrak pengiriman Mei 2019 di bursa Intercontinental Exchange ditutup melemah 2,84% atau 2,85 poin pada level US$97,35 per pon. Dalam sebulan terakhir harga kopi pernah mencapai level tertingginya di harga US$107,30 per pon. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga kopi komoditas kopi
Editor : Riendy Astria
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top