Pasokan Timah Global Tertekan, Permintaan Eropa Tetap Tinggi

Permintaan Eropa tetap tinggi meskipun pasar mengindikasi terdapat kemungkinan tertekannya pasokan global timah.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  12:47 WIB
Pasokan Timah Global Tertekan, Permintaan Eropa Tetap Tinggi
Aktivita tambang timah Belitung Timur - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan Eropa tetap tinggi meskipun pasar mengindikasi terdapat kemungkinan tertekannya pasokan global timah.

Mengutip Bloomberg, tertekannya pasokan global timah akibat penundaan ekspor Indonesia, pemberhentian sementara tambang Yinman di China, dan produksi biji timah yang melemah di Myanmar.

Oleh karena itu, Amerika Serikat khawatir akan terjadi kenaikan harga timah sementara pelaku pasar timah terus melaporkan permintaan yang stabil di seluruh Eropa.

Apalagi, Ekonom Australia dan New Zealand Bank Group Jack Chambers mengatakan bahwa pernyataan dovish dari Ketua The Fed Jerome Powell akan membawa hampir semua logam dasar untuk naik.

“Dolar AS yang lebih lemah didorong oleh dovish dari Federal Reserve AS membuat investor kembali ke sektor logam dasar,” ujar Jack, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (28/2/2019).

Adapun, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menegaskan kembali pendekatan yang dovish untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut pada tahun ini. Dia mengatakan bahwa bank sentral akan kembali sabar dalam menentukan kebijakan moneternya tahun ini.

Sebagai informasi, Tambang Yinman di China telah diberhentikan sementara operasionalnya oleh Emergency Management Agency akibat kecelakaan yang terjadi pada akhir pekan lalu. Walaupun demikian, pasar belum merasakan efek hilir dari suspensi penghasil timah utama, Yinman.

Di sisi lain, di negara penghasil timah terbesar kedua di dunia, Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (BKDI) akan meluncurkan kontrak fisik timah baru untuk memulihkan perdagangan ekspor timah di Indonesia yang tersendat akibat kasus disegelnya timah dari salah satu smelter yang disimpan di gudang penyimpanan di Bangka Belitung.

Kontrak terbaru tersebut akan memperbolehkan pengusaha timah mendapatkan sertifikat baik dari yang di verifikasi oleh PT Sucofindo maupun PT Surveyor Indonesia. Pasalnya, pada perdagangan saat ini yang aktif adalah eksportir yang menggunakan PT Sucofindo saja.

Adapun, kontrak terbaru tersebut akan resmi diluncurkan pada Senin pekan depan (4/3/2019) dan diharapkan dapat memulihkan kembali perdagangan timah Indonesia yang sempat tersendat.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Rabu (27/2/2019), harga timah di bursa London Metal Exchange ditutup melemah 0,37% menjadi US$21.530 per ton.

Sementara itu, harga timah untuk kontrak TINPB300 di BKDI pada penutupan perdagangan Rabu (27/2/2019), menguat 265 poin menjadi US$21.765 per ton.

 
 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
timah, harga timah

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top