Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspektasi Saudi dan OPEC Abaikan Seruan Trump, Harga Minyak Menguat

Harga minyak mentah kembali menguat tipis pada Senin (26/2/2019) malam, menyusul ekspektasi Arab Saudi dan seluruh anggota OPEC untuk mempertahankan pemangkasan produksi mereka, kendati ada tekanan dari Presiden Donald Trump.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  23:28 WIB
West Texas Intermediate - Reuters
West Texas Intermediate - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah kembali menguat tipis pada Senin (26/2/2019) malam, menyusul ekspektasi Arab Saudi dan seluruh anggota OPEC untuk mempertahankan pemangkasan produksi mereka, kendati ada tekanan dari Presiden Donald Trump.

Mengutip Bloomberg, hingga pukul 20:50 WIB harga minyak West Texas Intermediate terpantau naik 0,14% atau 0,08 poin di level US$55,56 per barel. Harga minyak jenis Brent juga mengalami penguatan sebesar 0,51% atau 0,33 poin di level US$65,09 per barel.

Padahal sebelumnya, di hari yang sama kedua harga minyak mentah acuan tersebut sempat berada di zona merah. Dipicu oleh sentimen negatif dari pernyataan Trump kepada OPEC untuk tak terlalu agresif memangkas produksi.

“Kemarin adalah tindakan harga khas yang Anda lihat selama [pertemuan] IP [International Petroleum] Week, ketika Anda memiliki berita utama [pernyataan Trump]. Tetapi saya tidak berpikir hal itu akan mengubah apa pun dalam kebijakan OPEC,” kata Oliver Jakob, analis minyak di Petromatrix, dikutip dari Reuters, Selasa (26/2/2019).

Ekspektasi bahwa cadangan minyak mentah AS telah tumbuh untuk enam pekan memang cukup membatasi reli harga minyak.

Seperti diketahui, stok minyak mentah AS terpantau mencapai 3,6 juta barel lebih tinggi dalam laporan persediaan mingguan. Hal itu  menggarisbawahi bahwa pasokan memadai di konsumen utama dunia, yaitu AS.

Sementara harga minyak sudah naik sekitar 20% sejak awal tahun, saat OPEC dan produsen lainnya seperti Rusia mulai memangkas produksi untuk menghalau pasokan yang melimpah.

Jakob mengatakan, Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya kemungkinan akan berhati-hati untuk melonggarkan rencana pengurangan pasokan mereka, usai pengalaman menaikkan produksi pada paruh kedua tahun lalu jelang sanksi AS terhadap Iran menyebabkan penurunan tajam harga.

Broker minyak PVM mengambil pandangan yang serupa. "Akankah kerajaan [Arab Saudi] akan bergerak dan meningkatkan produksi atau setidaknya membuatnya tetap stabil?. Hanya dua minggu setelah mengumumkan pemotongan yang lebih dalam, itu [kenaikan produksi] akan menjadi kekalahan,” kata Tamas Varga dari PVM.

Sumber OPEC, dalam komentarnya kepada Reuters pada hari Selasa, setuju dengan pandangan para analis tersebut.

Sanksi A.S. terhadap anggota OPEC Iran dan Venezuela juga telah berkontribusi pada keuntungan dan memberikan landasan bagi harga untuk bergerak naik, kata para analis.

Di sisi lain, optimisme tentang kesepakatan perdagangan AS-China juga membantu harga naik.

Trump pada Senin (25/2) mengatakan, dia mungkin akan segera menandatangani perjanjian untuk mengakhiri perang dagang dengan Presiden Cina Xi Jinping jika negara mereka dapat menjembatani perbedaan yang tersisa

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wti
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top