IHSG Ditutup Melemah, Analis: Bukan Hanya Soal Neraca Perdagangan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir dari penguatannya dan berakhir di teritori negatif pada perdagangan hari ini, Jumat (15/2/2019).
Renat Sofie Andriani | 15 Februari 2019 17:52 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Senin (4/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir dari penguatannya dan berakhir di teritori negatif pada perdagangan hari ini, Jumat (15/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,48% atau 30,93 poin di level 6.389,08 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Kamis (14/2), IHSG berakhir di level 6.420,02 dengan kenaikan tipis 0,01% atau 0,90 poin.

Padahal, setelah dibuka menguat 0,09% atau 5,80 poin di level 6.425,81 pagi tadi, IHSG sempat melanjutkan kenaikannya menyentuh kisaran level 6.430. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.374,90 – 6.433,68.

Delapan dari sembilan sektor dalam IHSG berakhir di teritori negatif, dipimpin sektor tambang dan properti yang masing-masing turun 1,38% dan 1,35%. Satu-satunya yang mampu berakhir di zona hijau adalah sektor infrastruktur dengan kenaikan 0,62%. 

Dari 627 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 130 saham menguat, 284 saham melemah, dan 213 saham stagnan.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang masing-masing turun 1,86% dan 1,79% menjadi penekan utama atas pelemahan IHSG pada akhir perdagangan.

Di sisi lain, saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dan PT Bank Permata Tbk. (BNLI) yang masing-masing naik 1,34% dan 12,00% menjadi pendorong sekaligus membatasi besarnya pelemahan IHSG.

Aksi jual bersih oleh investor asing terus berlanjut pada perdagangan hari keenam berturut-turut. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan net sell sebesar Rp286,76 miliar pada perdagangan hari ini.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, mengatakan pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini di antaranya dipengaruhi oleh rilis data neraca perdagangan. 

Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,16 miliar pada Januari 2019. Dari data BPS, defisit bulan Januari merupakan defisit bulanan terburuk sepanjang masa.

Defisit ini dipicu oleh penurunan di sisi ekspor migas dan nonmigas akibat kondisi ekonomi global yang melambat, perang dagang dan penurunan harga komoditas.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), rentetan defisit ini telah dimulai sejak tahun lalu. Sepanjang 2018, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan per bulan yang nilainya rata-rata hampir di atas US$1 miliar. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sentimen defisit neraca perdagangan terhadap pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bersifat sementara.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan pelemahan IHSG dipicu oleh berbagai faktor, tidak hanya neraca perdagangan. “Saya rasa domestik positif semua, ini sentimen sementara saja," tegas Wimboh, Jumat (15/2/2019).

Senada dengan Wimboh, Nico menambahkan faktor lain yang juga memengaruhi pergerakan pasar hari ini datang dari pemberitaan yang kurang baik mengenai pertemuan Amerika Serikat (AS) dan China. 

Kedua belah pihak dikabarkan gagal mempersempit jarak dalam hal reformasi struktural ekonomi seperti yang diminta AS.

Di samping itu, rilis data penjualan ritel yang lemah dari Amerika Serikat (AS) memunculkan keraguan baru tentang kekuatan negara berekonomi terbesar di dunia tersebut.

Penjualan ritel turun 1,2% pada Desember 2018, penurunan terbesar sejak September 2009. Ini menjadi pertanda momentum ekonomi yang lebih lambat pada akhir tahun di tengah pergolakan pasar keuangan dan penutupan layanan pemerintah (government shutdown) di Amerika Serikat.

Penurunan penjualan ritel disertai dengan data yang menunjukkan peningkatan tak terduga dalam jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim untuk tunjangan pengangguran pekan lalu.

“Memburuknya penjualan ritel AS bisa bersifat sementara, tetapi pasar saham tidak punya banyak pilihan selain menanggapi kekhawatiran seputar konsumsi,” kata Seiichi Miura, pakar strategi investasi di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities Co, Tokyo.

“Sehubungan dengan perundingan perdagangan AS-China, sulit untuk melihat progres dalam sejumlah isu fundamental seperti transfer teknologi,” tambahnya, dikutip dari Bloomberg.

Sejalan dengan IHSG, pergerakan indeks Bisnis-27 ditutup melemah 0,60% atau 3,34 poin di level 556,16, setelah dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,24% atau 1,32 poin di level 560,82 pagi tadi.

Indeks saham lainnya di Asia mayoritas juga berakhir melemah, di antaranya indeks FTSE Straits Times Singapura (-0,41%), indeks FTSE Malay KLCI (-0,01%), indeks SE Thailand (-0,85%), dan indeks PSEi Filipina (-1,03%).  

Di Jepang, indeks Topix dan Nikkei 225 masing-masing ditutup melemah 0,79% dan 1,13%. Indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,34%, indeks Hang Seng Hong Kong merosot 1,87%, sedangkan dua indeks saham utama di China, Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing melemah 1,37% dan 1,86%.

Saham-saham penekan IHSG:                   

Kode

(%)

HMSP

-1,86

UNVR

-1,79

BBRI

-0,79

INKP

-3,97

BBCA

-0,37

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

TLKM

+1,34

BNLI

+12,00

EXCL

+14,15

CPIN

+2,05

BRPT

+3,70

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG, rekomendasi saham
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top