Yield Obligasi Indonesia Unggul di Pasar Asia

Dalam pertempuran antara dua pasar obligasi besar dengan imbal hasil tertinggi di Asia, Indonesia siap menjadi pasar obligasi dengan imbal hasil tertinggi mengalahkan India.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 10 Februari 2019  |  16:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Dalam pertempuran antara dua pasar obligasi besar dengan imbal hasil tertinggi di Asia, Indonesia siap menjadi pasar obligasi dengan imbal hasil tertinggi mengalahkan India. 

Manajer uang global semakin menghindari sekuritas India ketika pemerintah Narendra Modi membagikan miliaran dolar melalui pemangkasan pajak dan peningkatan subsidi untuk meningkatkan daya tarik perdana menteri menjelang pemilihan.

Langkah ini berdampak pada pembengkakan defisit negara.

Sebaliknya, status fiskal Indonesia yang membaik dan sikap kebijakan moneter yang agresif dalam menghadapi tantangan global telah memoles aset negara di mata investor.

Keduanya memiliki kesamaaan, terutama yang berlaku pada tahun ini. Indonesia dan India menjalankan defisit transaksi berjalan, sangat sensitif terhadap perubahan dalam kebijakan suku bunga AS, dan akan menghadapi pemilihan umum presiden pada 2019.

“Obligasi Indonesia terlihat lebih menarik mengingat imbal hasil yang tinggi, perekonomian cenderung berjalan baik dan keuangan mungkin berada pada posisi relatif yang lebih baik daripada India,” ujar Direktur Fixed Income Schroder Investment Management Ltd., Manu George, seperti dikutip oleh Bloomberg, Minggu (10/2).

Aset di kedua negara akan diuji minggu ini bersamaan dengan laporan inflasi utama dan output pabrik India serta laporan data perdagangan Indonesia.

Imbal hasil obligasi India 2028 yang diperdagangkan secara luas melonjak 13 basis poin pada 1 Februari. Realisasi ini tercapai bersamaan pada hari pemerintahan Modi mengumumkan rencana untuk menjual sekuritas senilai 7,1 triliun rupee atau sebesar US$100 miliar untuk membiayai defisit fiskal untuk tahun yang dimulai 1 April.
 
Bahkan kejutan penurunan suku bunga oleh bank sentral India pekan lalu tidak sepenuhnya mampu meredam kerugian karena kekhawatiran pasokan likuditas negara telah merusak selera investor.

Pada periode yang sama di Indonesia, imbal hasil obligasi yang jatuh tempo pada periode serupa telah turun 13 basis poin bulan ini.

Dengan reli baru-baru ini, sekuritas bertenor 10-tahun yang ditawarkan Indonesia masih memberikan yield sekitar 7,88% dan merupakan yang tertinggi di Asia. 

Menurut data yang dikumpulkan Bloomberg, penawaran ini membantu memikat sekitar US$2 miliar dalam investasi portofolio asing tahun ini, dibandingkan dengan outflow India sekitar US$743 juta.

Kontes politik menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pasar tahun ini dimana investor sedang menghindari obligasi India di tengah meningkatnya ketidakpastian politik menjelang pemilu April-Mei.

Sementara itu di Indonesia, eksistensi Presiden Joko Widodo diperkirakan dapat membantu dirinya mengamankan masa jabatan periode kedua. 

Terkait kondisi ekonomi negara terhadap pemilu presiden, Timothy Ash, ahli strategi di BlueBay Asset Management di London, mengatakan profil keuangan publik yang lebih baik dan pengaturan kebijakan moneter dan fiskal yang sangat ortodoks menjadi pertanda baik bagi aset Indonesia.


"Dari segi risiko, pasar Indonesia masih lebih menarik," ujar Ash.

Indonesia memperkirakan kekurangan fiskal sebesar 1,84% dari produk domestik bruto (PDB) untuk 2019, sementara India bulan ini meningkatkan target defisitnya untuk tahun fiskal sekarang dan yang akan datang menjadi 3,4% dari PDB.
 
Ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan akan menunjukkan kinerja terbaik berkat dua faktor penting yakni rebound harga sumber daya alam yang menguntungkan eksportir serta poros dovish The Fed terhadap rencana kenaikan suku bunga acuan yang sempat menyebabkan fenomena penarikan modal investor asing pada tahun lalu.

"Mengingat sifat kompleks politik India, investor lebih khawatir tentang ketidakpastian pemilu di India daripada di Indonesia," kata Vivek Rajpal, ahli strategi tingkat di Nomura Holdings Inc. di Singapura. 


Rajpal mengatakan bahwa obligasi Indonesia diperhitungkan akan lebih menguntungkan karena latar belakang ekonomi global yang tengah melesu yang dipicu oleh perubahan taktik moneter The Fed dan penurunan imbal hasil riil AS.

Beberapa manajer keuangan mengatakan bahwa rencana pinjaman Perdana Menteri Narendra Modi yang sebesar US$100 miliar bukanlah satu-satunya berita buruk bagi pasar obligasi India.

Menurut OppenheimerFunds Inc.Penjualan utang masih bisa gagal untuk menjembatani defisit perkiraan karena anggaran pemerintah bergantung pada pengumpulan pendapatan yang ambisius dan item satu kali (one-off items) yang mungkin tidak bisa menopang pendapatan negara.

Manajer aset terbesar di Eropa, Amundi SA, juga mengatakan bahwa obligasi dari negara-negara Asia lainnya menawarkan nilai imbal hasil yang lebih baik.

Modi pada Jumat (8/2) mengerluarkan kebijakan senilai US$13 miliar untuk pembayaran bagi para petani dan bantuan dana keringanan pajak guna meningkatkan dukungan sebelum pemilu. Langkah-langkah ini akan berakhir dengan defisit negara yang semakin melebar.

Kebijakan dan dampak tersebut merupakan berita buruk bagi pasar telah merosot dalam lima hingga enam pekan terakhir karena investor asing tercatat telah menjual utang negara senilai 43,6 miliar rupee pada Januari, setelah memangkas kepemilikan sebesar 179 miliar rupee pada 2018.

Kepala Fixed Income di OppenheimerFunds Krishna Memani memperkirakan kerugian neraca defisit akan menjadi lebih parah.

"Ini adalah anggaran pemilu dan pemerintah telah mereka bersedia untuk menanggung beban biaya tersebut," kata Memani.

Menurut Memani, pelemahan fiskal dan ketidakpastian politik berarti obligasi India akan bersaing dengan pasar berkembang lainnya yang memiliki risiko ekonomi dan politik yang lebih rendah.

Investor asing diketahui telah menjual 13,5 miliar rupee utang negara pada hari Senin (4/2) dan merupakan jumlah terbesar sejak 12 Desember 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, yield obligasi

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top