Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Bantah Isu Soal Tarif China, Harga Minyak Panas Dingin

Rebound harga minyak mentah yang sempat dibukukan pascapenutupan pasar berkurang pada Kamis (17/1/2019), setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) membantah isu pengurangan tarif terhadap impor China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 18 Januari 2019  |  07:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Rebound harga minyak mentah yang sempat dibukukan pascapenutupan pasar berkurang pada Kamis (17/1/2019), setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) membantah isu pengurangan tarif terhadap impor China.

Kontrak berjangka minyak di New York yang sempat naik 0,5%, memulihkan kelesuan sebelumnya, pun kembali tergelincir.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Februari turun 5 sen ke level US$52,26 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 4.15 sore waktu setempat. Pada perdagangan Kamis, minyak WTI ditutup di level US$52,07 per barel.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Maret 2019 berada di level US$61,21 per barel, setelah berakhir di level US$61,18 per barel di ICE Futures Europe exchange di London pada Kamis. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US$8,82 per barel terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Harga minyak rebound setelah Wall Street Journal pada Kamis, mengutip informasi sumber terkait, melaporkan bahwa Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengusulkan untuk menawarkan pengurangan tarif terhadap China. Namun, laporan ini kemudian dibantah oleh Departemen Keuangan AS.

“Minyak telah berjalan baik tahun ini, berkat meningkatnya optimisme tentang kesepakatan perdagangan. Kekhawatiran telah mereda akibat pembicaraan antara AS dan China,” kata Harry Tchilinguirian, kepala strategi pasar komoditas di BNP Paribas SA, seperti dilansir Bloomberg.

Rebound tersebut memulihkan penurunan sebesar 0,5% untuk minyak mentah AS pada penutupan perdagangan resmi di New York.

Sementara itu, pada Kamis OPEC menyatakan bahwa produksi kartel minyak ini telah mencatat penurunan terbesar dalam dua tahun. Tapi pada saat yang sama sebuah laporan pemerintah AS juga menunjukkan rekor tingkat pengeboran di Amerika.

Harga minyak mentah telah pulih lebih dari 20% dari level terendahnya pada Malam Natal 2018, namun masih di bawah level tertinggi dalam empat tahun yang dicapai pada Oktober. Kondisi bullish harga sebagian besar akan bergantung pada dampak pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari yang dijanjikan oleh produsen-produsen minyak mentah.

“Ada yang tidak diketahui tahun ini. Apa yang kita lihat di sisi bearish adalah bahwa produksi mencapai rekor. Di sisi bullish, OPEC memangkas produksinya,” kata Bill O'Grady, kepala strategi pasar di Confluence Investment Management, St. Louis.

Di AS, produksi minyak mentah naik 200.000 barel per hari pekan lalu menjadi 11,9 juta barel per hari, level tertinggi dalam data mingguan yang dihimpun oleh Energy Information Administration (EIA) sejak tahun 1983.

Ketika jumlah persediaan nasional AS turun untuk keenam kalinya dalam tujuh pekan, stok bensin dan minyak distilat naik lebih dari dua kali lipat dari jumlah yang diperkirakan dalam survei Bloomberg.

Di sisi lain, Arab Saudi memangkas pengiriman minyak mentahnya ke kilang di AS sebesar 32% menjadi 684.000 barel per hari dalam pekan yang berakhir pada 11 Januari, setelah mengekspor lebih dari 1 juta barel per hari pada pekan sebelumnya, menurut data pendahuluan dari EIA.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top