Data Perdagangan Kecewakan Investor, Bursa Saham China Terjungkal

Pergerakan bursa saham China berakhir di zona merah pada perdagangan hari ini, Senin (14/1/2019), setelah rilis data perdagangan bulanan yang lebih lemah dari perkiraan meresahkan investor sekaligus memperkuat kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi dan permintaan global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Januari 2019  |  17:10 WIB
Data Perdagangan Kecewakan Investor, Bursa Saham China Terjungkal
Bursa China SHCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan bursa saham China berakhir di zona merah pada perdagangan hari ini, Senin (14/1/2019), setelah rilis data perdagangan bulanan yang lebih lemah dari perkiraan meresahkan investor sekaligus memperkuat kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi dan permintaan global.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Shanghai Composite berakhir melemah 0,71% atau 18,07 poin di level 2.535,76, setelah mampu berakhir menguat 0,74% atau 18,73 poin di posisi 2.553,83 pada Jumat (11/1).

Adapun indeks CSI 300 di Shenzhen yang berisi saham-saham blue chip hari ini ditutup melemah 0,87% atau 26,99 poin di level 3.067,78, setelah mampu menguat 0,72% atau 22,09 poin dan menutup perdagangan terakhir pekan lalu di level 3.094,78.

China secara tak terduga mencatat penurunan ekspor dan impor pada bulan Desember 2018. Fakta ini menunjukkan pelemahan lebih lanjut dalam negara berekonomi terbesar kedua di dunia tersebut dan permintaan global yang lebih lesu.

Baca juga: MYOH Kinclong

Berdasarkan data Administrasi Bea Cukai China, ekspor dalam dolar turun 4,4% pada Desember dari bulan yang sama tahun sebelumnya, sementara impor turun 7,6% pada periode yang sama. Penurunan ekspor dan impor tersebut merupakan yang terburuk sejak 2016.

Dengan penurunan ekspor dan impor tersebut, neraca perdagangan dalam denominasi dolar AS meningkat menjadi US$57,1 miliar pada Desember.

Sementara itu, untuk keseluruhan tahun 2018 ekspor dalam dolar AS naik 9,9% menjadi US$2,48 triliun, sedangkan impor naik 15,8%, dengan surplus neraca perdagangan sebesar US$351,8 miliar.

Dilansir Reuters, pelemahan ekspor impor di China ini sudah dirasakan di seluruh dunia, dengan melambatnya penjualan barang mulai dari iPhone hingga mobil yang memicu penurunan proyeksi laba dari perusahaan seperti Apple dan Jaguar Land Rover.

Data perdagangan Desember yang suram menunjukkan ekonomi China diperkirakan telah kehilangan momentum lebih banyak di akhir tahun daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Hal itu terjadi terlepas dari banyak langkah peningkatan pertumbuhan dalam beberapa bulan terakhir, mulai dari peningkatan pengeluaran infrastruktur hingga pemotongan pajak.

“Data hari ini mencerminkan berakhirnya ekspor front-loading dan awal efek pengembalian, sementara perlambatan global juga dapat membebani ekspor China,” jelas analis Nomura.

“Pertumbuhan ekspor yang lebih lesu juga menunjukkan bahwa: 1) kekuatan mata uang renminbi saat ini mungkin berumur pendek; 2) Beijing mungkin akan lebih bersemangat untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan AS; dan 3) Pembuat kebijakan perlu mengambil langkah-langkah yang lebih agresif untuk menstabilkan pertumbuhan PDB,” lanjutnya.

Pemerintah China berencana untuk mengurangi pembatasan investasi asing dan mengatasi kesulitan yang dihadapi perusahaan-perusahaan asing yang berinvestasi di negara itu, menurut menteri perdagangan China pada akhir pekan.

Adapun kementerian sumber daya manusia mengatakan akan melakukan langkah-langkah untuk mempertahankan pekerjaan yang stabil.

Sementara itu, Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan rencana pemotongan pajak yang menargetkan perusahaan-perusahaan kecil akan membantu mendukung pekerjaan dan stabilitas ekonomi, serta akan memperluas basis pajak negara itu dalam jangka panjang.

Sejalan dengan bursa saham China,  pergerakan indeks Hang Seng di Hong Kong berakhir melemah 1,38% atau 368,94 poin di level 26.298,33, setelah mampu ditutup menguat 0,55% atau 145,84 poin di posisi 26.667,27 pada perdagangan Jumat (11/1).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa china

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top