Obligasi Korporasi Indonesia Masuk Tertinggi di Asia Pasifik dalam Satu Dekade

Outstanding obligasi korporasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir terus tumbuh signifikan mencapai 11,6%, atau kedua tertinggi di Asia Pasifik, menandakan positifnya pertumbuhan pasar obligasi di Indonesia.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 11 Januari 2019  |  14:46 WIB
Obligasi Korporasi Indonesia Masuk Tertinggi di Asia Pasifik dalam Satu Dekade
Obligasi korporasi - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Outstanding obligasi korporasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir terus tumbuh signifikan mencapai 11,6%, atau kedua tertinggi di Asia Pasifik, menandakan positifnya pertumbuhan pasar obligasi di Indonesia.

Berdasarkan data Asian Bond Online dan Pefindo, nilai outstanding obligasi korporasi Indonesia per September 2018 sudah mencapai US$28,1 miliar. Sejak 2009, outstanding obligasi korporasi Indonesia terus meningkat dari semula hanya US$9,4 miliar.

Secara tahunan, rata-rata pertumbuhan outstanding obligasi korporasi Indonesia sejak 2009 hingga September 2018 adalah 11,6%. Tingkat pertumbuhan ini hanya kalah dari China yang masih di urutan pertama dengan rata-rata tingkat pertumbuhan 18,5% per tahun.

Rata-rata tingkat pertumbuhan Indonesia ini sama dengan Thailan, tetapi lebih unggul dibandingkan negara lain di Asia Pasifit, seperti Hong Kong (2,9%), Jepang (-3,3%), Korea Selatan (7,4%), Malaysia (6,5%), Filipina (11,3%), SIngapura (8,1%), dan Vietnam (8,9%).

Kendati demikian, nilai outstanding obligasi korporasi Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan kebanyakan negara lain di Asia Pasifik. Outstanding terbesar dimiliki oleh China dan Korea Selatan, masing-masing US$2,48 triliun dan US$1,67 triliun.

Indonesia hanya lebih unggul dibandingkan Filipina yang sebesar US$22,2 miliar dan Vietnam yang sebesar US$3,4 miliar. Hal ini menunjukkan masih sangat rendahnya penetrasi oblligai korporasi di Indonesia.

“Penetrasi yang rendah mengindikasikan bahwa pertumbuhan penerbitan obligasi korporasi di masa mendatang di Indonesia masih prospektif,” kata Salyadi Saputra, Direktur Utama Pefindo, dikutip Jumat (11/1/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
obligasi korporasi

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top