IHSG Melemah Ikuti Bursa Asia

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,48% atau 29,30 poin ke level 6.103,82 pada pukul 9.15 WIB, setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,62% atau 38,11 poin di posisi 6.095,01.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 06 Desember 2018  |  09:47 WIB
IHSG Melemah Ikuti Bursa Asia
Pelajar mengamati monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada awal perdagangan hari ini, Kamis (6/12/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,48% atau 29,30 poin ke level 6.103,82 pada pukul 9.15 WIB, setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,62% atau 38,11 poin di posisi 6.095,01.

Sepanjang perdagangan pagi ini, IHSG bergerak di level 6.086,13 – 6.111,42. Adapun pada perdagangan Rabu (5/12), IHSG ditutup melemah 0,32% atau 19,74 poin ke level 6.133,12.

Sebanyak 97 saham menguat, 111 saham melemah, dan 410 saham stagnan dari 618 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Astra International Tbk. (ASII) yang masing-masing melemah 1,05% dan 1,5% menjadi penekan utama terhadap pergerakan IHSG pagi ini.

Tujuh dari sembilan indeks sektoral IHSG melemah pada perdagangan pagi ini, didorong sektor aneka industri yang melemah 1,94% dan sektor perdagangan yang melemah 0,84%.

Di sisi lain, sektor pertanian dan tambang yang masing-masing menguat 0,37% dan 0,32% menahan pelemahan IHSG lebih lanjut.

IHSG melemah sejalan dengan bursa saham Asia saat investor menjauhi aset-aset berisiko di tengah kekhawatiran mengenai pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS).

Indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang turun 0,2%, sedangkan indeks Nikkei Jepang melemah 1%. Sejalan dengan bursa Asia, dolar AS melemah terhadap yen sebesar 0,2% ke level 112,98, mengikis sebagian kenaikan moderatnya semalam.

Pasar ekuitas global telah terguncang dan dolar AS melemah pekan ini setelah inversi di dalam bagian kurva imbal hasil obligasi AS memicu kekhawatiran pasar tentang pertumbuhan ekonomi.

Spread antara imbal hasil obligasi bertenor dua tahun dan lima tahun membalik pekan ini, sementara spread imbal hasil obligasi bertenor dua tahun/10 tahun berada di posisi paling flat dalam lebih dari satu dekade.

Kurva yang lebih flat dipandang sebagai indikator ekonomi yang melambat, dengan imbal hasil tenor jangka panjang yang lebih rendah menunjukkan bahwa pasar melihat pelemahan ekonomi di masa mendatang.

Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun turun ke level terendahnya dalam tiga bulan di 2,885% pada Selasa (4/12) dan terakhir berada di posisi 2,920%.

“Dolar AS bisa tetap di bawah tekanan hingga pertemuan The Fed bulan ini karena imbal hasil obligasi bertenor jangka panjang mungkin tidak dapat rebound sampai pasar melihat sikap The Fed mengenai kebijakan dan ekonomi,” kata Junichi Ishikawa, pakar strategi valas di IG Securities, seperti dilansir dari Reuters.

“Reaksi baru-baru ini terhadap inversi kurva imbal hasil AS tampak sedikit histeris, tetapi dolar tidak akan menerima tanda yang jelas sampai pertemuan Fed berlalu.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup