Dolar AS Unjuk Muka di Asia, Rupiah Tambah Lesu

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlanjut pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (5/12/2018), di tengah pelemahan mata uang Asia terhadap dolar AS.
Renat Sofie Andriani | 05 Desember 2018 19:25 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlanjut pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (5/12/2018), di tengah pelemahan mata uang Asia terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot berakhir melemah 111 poin atau 0,78% di level Rp14.403 per dolar AS, setelah ditutup terdepresiasi 48 poin atau 0,34% di level Rp14.292 per dolar AS pada perdagangan Selasa (4/12).

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berlanjut ketika dibuka di level Rp14.364 per dolar AS dengan depresiasi 72 poin atau 0,50% pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.363 – Rp14.425 per dolar AS.

Kendati hampir seluruh mata uang di Asia terpantau melemah petang ini, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif paling dalam di antara mata uang lainnya.

Namun begitu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution meyakini rupiah dapat kembali menguat ke kisaran level Rp13.000 per dolar AS jika dikendalikan dengan baik.

“Saya percaya fundamental rupiah berada di sekitar 13.000. Rupiah bisa bergerak ke kisaran level 13.000 lagi jika kita mengendalikannya dengan baik. Tapi tidak 13.500, mungkin 13.700 atau 13.800,” ujar Darmin dalam suatu konferensi pers di Jakarta hari ini, seperti dikutip Bloomberg.

Bersama rupiah, nilai tukar won Korea Selatan juga berakhir melemah 0,77% terhadap dolar AS. Di sisi lain, nilai tukar rupee India mampu terapresiasi tipis 0,02% terhadap dolar AS pada pukul 18.07 WIB, setelah bank sentral India mempertahankan tingkat suku bunga acuannya hari ini.

Tekanan yang dialami hampir seluruh uang di Asia sebagian diakibatkan skeptisisme bahwa pemerintah AS dan China akan mencapai kesepakatan perdagangan dan kekhawatiran.

Pasar finansial global hari ini juga terseret kekhawatiran seputar pertumbuhan ekonomi AS yang menekan tiga indeks saham utama di AS berakhir anjlok pada perdagangan Selasa (4/12) sekaligus memicu aksi penghindaran aset berisiko.

Penurunan ini terjadi hanya sehari setelah lonjakan pasar saham pada awal pekan ini yang didorong optimisme bahwa China dan AS akan menyelesaikan konflik perdagangan mereka setelah menyepakati ‘gencatan senjata’ di sela-sela KTT G20 pada Sabtu (1/12).

Akan tetapi, pada Selasa (4/12) waktu setempat Presiden Donald Trump kembali mengancam pemberlakuan tarif pada impor China jika pemerintahannya gagal mencapai kesepakatan perdagangan yang efektif dengan Tiongkok.

Pemerintah China kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa pertemuan perdagangan dengan AS akhir pekan kemarin berlangsung sangat sukses dan optimistis mengenai penerapan hasil pembicaraan tersebut, meskipun tidak memberikan detail tentang apa yang telah disetujui.

“Optimisme atas gencatan senjata terbukti sementara, kurangnya perincian yang penting dari perjanjian itu menjadi lebih dari sekadar fokus,” kata Khoon Goh, kepala riset Asia di ANZ.

Pada saat yang sama, terdapat kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan AS dengan spread antara imbal hasil obligasi dua tahun dan 10 tahun berada pada level paling flat dalam lebih dari satu dekade. Kurva yang lebih flat dipandang sebagai indikator resesi.

“Perekonomian AS kemungkinan akan mampu menahan satu atau dua kenaikan suku bunga lebih lanjut, karenanya kurva yang flat terlihat sedikit berlebihan. Meski demikian, memang benar bahwa prospek ekonomi lebih suram daripada sebelumnya,” kata Masahiro Ichikawa, pakar strategi senior di Sumitomo Mitsui Asset Management.

Sementara itu, pergerakan indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama hari ini terpantau menguat 0,042 poin atau 0,04% ke level 97,007 pada pukul 17.57 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan kenaikan 0,039 poin atau 0,04% di level 97,004, setelah pada perdagangan Selasa (4/12) berakhir turun tipis 0,08% atau 0,075 poin di posisi 96,965.

Tekanan seputar isu perdagangan dan keresahan geopolitik diketahui memacu daya tarik dolar AS yang bersifat sebagai mata uang safe haven.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, nilai tukar rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top