Iran: Harga Minyak Bakal Merosot ke Level US$40

Harga minyak dinilai akan merosot ke level US$40 per barel kecuali Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya sepakat untuk memangkas produksi secara signifikan.
Renat Sofie Andriani | 04 Desember 2018 14:59 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dinilai akan merosot ke level US$40 per barel kecuali Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya sepakat untuk memangkas produksi secara signifikan.

Menurut Gubernur OPEC Iran Hossein Kazempour Ardebili, produksi minyak perlu dikurangi setidaknya sebesar 1,4 juta barel per hari guna mencegah kelebihan pasokan (oversupply).

Meski Iran tidak akan ambil bagian dalam segala bentuk langkah pemangkasan akibat sanksi pemerintah AS terhadap ekspornya, Kazempour mengatakan OPEC mungkin tidak dapat mencapai kesepakatan untuk membatasi pasokan dalam pertemuan di Wina pekan ini.

Komentar tersebut menunjukkan pandangan berbeda di dalam OPEC seiring dengan upayanya mencapai konsensus tentang kebijakan pasokan pada tahun depan. Harga minyak mentah sendiri telah merosot ke dalam kondisi bearish bulan lalu.

Meski Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat dalam hal mengendalikan pasar minyak, Qatar secara mengejutkan menyatakan akan keluar dari OPEC pada 2019. Untuk diketahui, segala keputusan OPEC harus tercapai dengan suara bulat agar dapat diimplementasikan.

“Saya kira mereka tidak berpikir untuk melakukan pemangkasan,” tambah Kazempour dalam suatu wawancara, seperti dilansir Bloomberg.

Iran, salah satu negara pendiri OPEC, terpaksa memangkas produksinya dari 3,8 juta barel per hari awal tahun ini menjadi sekitar 3 juta bulan lalu saat sanksi pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap ekspornya mulai diberlakukan dan mendorong para pembeli menjauhinya.

Kendati ancaman Presiden AS Donald Trump untuk membuat pengiriman minyak Iran menjadi nol terbukti hanya gertakan setelah mengizinkan sejumlah importir untuk dapat terus membeli minyak Iran, keringanan tersebut memberikan ketentuan untuk pembelian dan untuk waktu yang terbatas.

Kemerosotan harga minyak dalam dua bulan terakhir menambah permasalahan bukan hanya bagi Iran, tetapi seluruh kelompok yang dikenal sebagai OPEC+.

Harga minyak Brent saat ini berada di kisaran level US$61 per barel, di bawah apa yang sebagian besar produsen butuhkan untuk menyeimbangkan anggaran nasional mereka. Trump juga telah menekan kartel ini untuk menekan harga lebih rendah.

Arab Saudi dan Rusia telah berupaya untuk mengatasi merosotnya harga dengan sepakat memperpanjang kerjasama mereka untuk mengendalikan pasar. Namun baik Arab Saudi dan Rusia tidak mengonfirmasikan langkah pemangkasan pasokan yang baru.

Kazempour meragukan OPEC+ akhirnya akan setuju untuk memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi. “Negara-negara yang telah menempatkan barel minyak ke pasar dalam tiga bulan terakhir harus menguranginya kembali,” katanya.

Setelah berhasil mengikis stok minyak yang membengkak dan menghidupkan kembali harga dengan langkah pemangkasan pasokan sejak 2017, OPEC dan sekutu-sekutunya pada Juni sepakat untuk membalik upaya ini dan meningkatkan produksi.

Sejak itu Arab Saudi telah mendorong produksinya ke tingkat rekor, sedangkan Rusia juga telah memompa lebih banyak produksi. Kekhawatiran akan kelebihan pasokan pun muncul kembali. Bersama dengan sentimen kekhawatiran mengenai permintaan, harga minyak telah turun hampir 30% sejak awal Oktober.

“Saya ragu, dengan kegagalan yang dialami dalam tiga bulan terakhir, deklarasi kerjasama akan diperpanjang,” lanjut Kazempour.

Kazempour juga mengangkat potensi perpecahan dalam OPEC. Menurutnya, kemerosotan harga minyak dan kehilangan pendapatan dapat memberi alasan bagi produsen-produsen kecil untuk hengkang dari kartel tersebut.

Tag : Harga Minyak
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top