Pasar Ragu Kesepakatan AS-China, Rupiah Dibuka Melemah

IHSG dibuka menguat tipis, sedangkan nilai tukar rupiah turun. Saat ini, pasar masih ragu terkait hasil kesepakatan Amerika Serikat dengan China dalam meredam tensi perang dagang.
Surya Rianto | 04 Desember 2018 10:15 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, belum lama ini. Pergerakan IHSG dalam sesi dagang Rabu (21/11) diprediksi akan mengalami pelemahan. Berdasarkan daily pivot dari Bloomberg, support pertama maupun kedua memiliki range pada level 5.973,958 hingga 5.942,620. - Felix Jody

Bisnis.com, JAKARTA -- IHSG dibuka menguat tipis, sedangkan nilai tukar rupiah turun. Saat ini, pasar masih ragu terkait hasil kesepakatan Amerika Serikat dengan China dalam meredam tensi perang dagang.

Beberapa berita terpopuler Bisnis.com pada kanal Market pada pagi ini membahas PT Wijaya Karya Tbk. bakal mendorong dua anak usahanya Go Public pada 2019 dan harga minyak mentah dunia yang terus meroket.

Berikut kompilasi berita terpopuler Bisnis.com pada kanal Market pagi ini :

Nilai Tukar Rupiah Dibuka Melemah 0,55%

Nilai tukar rupiah bergerak melemah di zona merah pada perdagangan hari ini, Selasa (4/12/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka dengan pelemahan 0,55% atau 79 poin ke level Rp14.323 per dolar AS.

Adapun pada perdagangan Senin (3/12), nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,41% atau 58 poin di level Rp14.244 per dolar AS, melanjutkan reli selama tiga hari berturut-turut.

Pada saat yang sama, pergerakan indeks dolar AS, yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama, terpantau melemah 0,08% atau 0,081 poin ke level 96,959 pada pukul 08.01 WIB.

Selengkapnya bisa klik link ini

IHSG Dibuka Menguat Tipis

Sejumlah analis memprediksi IHSG dalam ancaman terkoreksi jangka pendek, pascanaik cukup signifikan dalam perdagangan kemarin, Senin (03/12).

Binaartha Sekuritas memproyeksikan IHSG terkoreksi wajar setelah membukukan penguatan dalam perdagangan kemarin, Senin (03/12).

Analis Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan terlihat pola bearish pin bar yang mengindikasikan adanya potensi koreksi wajar pada pergerakan IHSG sehingga berpeluang menuju ke area support.

Berdasarkan daily pivot dari Bloomberg, support pertama maupun kedua memiliki range pada level 6.094,275 hingga 6.070,230.

Selengkapnya bisa klik link ini

Pasar Ragu Kesepakatan AS-China, Bursa Asia Tergelincir

Bursa saham Asia tergelincir turun pada awal perdagangan hari ini, Selasa (4/12/2018), setelah penguatan yang dipicu 'gencatan senjata' Amerika Serikat (AS)-China mencetuskan keraguan tentang apakah kedua negara mampu menyelesaikan perbedaan mereka sebelum batas waktu 90 hari.

Indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang turun 0,2%, saat bursa saham Australia dan indeks Kospi di Seoul Korea Selatan masing-masing turun 0,5% dan 0,6%. Adapun indeks Nikkei Jepang turun 0,3%.

Dalam pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela perhelatan KTT G20 akhir pekan kemarin, Presiden AS Donald Trump sepakat untuk menunda kenaikan tarif selama tiga bulan atau 90 hari sebagai imbalan atas lebih banyak pembelian barang-barang asal AS.

Selengkapnya, bisa dibaca pada link ini

WIKA Bakal Antar Dua Anak Usahanya IPO Pada 2019

 PT Wijaya Karya Tbk. menargetkan dua anak usahanya yaitu PT Wika Realty dan PT Wika Industri Konstruksi dapat melaksanakan penawaran umum saham perdana (IPO) pada tahun depan.

Wika Realty merupakan entitas anak perseroan di bidang properti yang sempat menjadwalkan IPO pada 2018 namun ditunda karena kondisi pasar yang kurang mendukung. Wika Realty ditargetkan IPO pada kuartal II/2019 dengan menggunakan laporan keuangan Desember 2018.

Wika Industri Konstruksi merupakan anak usaha yang menjalankan bisnis manufaktur konstruksi dan perdagangan. Perusahaan tersebut ditargetkan dapat segera IPO pada semester II/2019 dengan menggunakan laporan keuangan Juni 2019.

Selengkapnya, bisa dibaca pada link ini

Harga Minyak Dunia Melonjak, Ini Pendorongnya

Harga minyak rebound dari penurunan bulanan terbesarnya dalam satu dekade setelah Rusia dan Arab Saudi setuju untuk memperpanjang kesepakatan mereka dalam hal mengendalikan pasar minyak mentah hingga tahun 2019.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak Brent untuk pengiriman Februari melonjak US$3,14 ke level US$62,60 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, dan diperdagangkan di level US$62,51 per barel pada perdagangan Senin (3/12/2018) pukul 11.38 siang waktu Seoul.

Harga minyak Brent melonjak 5,3% di London, setelah ambrol lebih dari 20% bulan lalu. Kontrak Januari minyak Brent berakhir pada Jumat (30/11/2018) setelah turun 1,3%.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari hari ini melonjak US$2,92 atau 5,7% ke level US$53,85 per barel di New York Mercantile Exchange, level intra day tertingginya sejak 23 November, setelah anjlok sekitar 22% bulan lalu.

Baca selengkapnya di link ini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top