Kesepakatan AS-China Picu Keraguan, Bursa Asia Tergelincir

Bursa saham Asia tergelincir turun pada awal perdagangan hari ini, Selasa (4/12/2018), setelah penguatan yang dipicu 'gencatan senjata' dalam konflik perdagangan Amerika Serikat (AS)-China mencetuskan keraguan tentang apakah kedua negara mampu menyelesaikan perbedaan mereka sebelum batas waktu 90 hari.
Renat Sofie Andriani | 04 Desember 2018 09:37 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia tergelincir turun pada awal perdagangan hari ini, Selasa (4/12/2018), setelah penguatan yang dipicu 'gencatan senjata' Amerika Serikat (AS)-China mencetuskan keraguan tentang apakah kedua negara mampu menyelesaikan perbedaan mereka sebelum batas waktu 90 hari.

Indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang turun 0,2%, saat bursa saham Australia dan indeks Kospi di Seoul Korea Selatan masing-masing turun 0,5% dan 0,6%. Adapun indeks Nikkei Jepang turun 0,3%.

Dalam pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela perhelatan KTT G20 akhir pekan kemarin, Presiden AS Donald Trump sepakat untuk menunda kenaikan tarif selama tiga bulan atau 90 hari sebagai imbalan atas lebih banyak pembelian barang-barang asal AS.

Trump sebelumnya merencanakan akan menaikkan tarif terhadap barang-barang asal China senilai US$200 miliar menjadi 25% pada 1 Januari dari 10%.

Penghentian sementara dalam perang perdagangan antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut, telah memicu rally global di pasar ekuitas pada perdagangan Senin (3/12/2018), dengan mendorong indeks dunia MSCI all country world naik 1,3%.

Tetapi bahkan sebelum sesi perdagangan Senin berakhir, penguatan tiga indeks saham utama di AS terkikis dari level tertingginya dalam sesi tersebut saat investor mencermati permasalahan yang belum terselesaikan antara kedua negara.

Pada perdagangan Senin, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 1,13%, indeks S&P 500 naik 1,09%, dan indeks Nasdaq Composite menanjak 1,51%.

“Secara keseluruhan berita perdagangan semalam mungkin (telah) memberi pasar lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, bisakah AS dan China benar-benar menyelesaikan perbedaan mereka dalam 90 hari?” terang Analis National Australia Bank dalam risetnya, seperti dilansir Reuters.'

“Tampaknya akan diperlukan lebih banyak perincian dan tanda-tanda kemajuan jika awal gencatan senjata perdagangan akan dipertahankan.”

Kebingungan pada pasar telah muncul terkait kapan dimulainya periode 90 hari. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan periode itu dimulai pada 1 Desember. Sebelumnya, penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan kepada wartawan bahwa periode itu akan dimulai pada 1 Januari.

Selain itu, tidak ada komitmen seperti dikatakan oleh pejabat AS telah diberikan oleh China, termasuk ihwal mengurangi tarif 40% untuk mobil, yang disetujui secara tertulis dan tidak ada pemaparan detail untuk hal ini.

“Kekhawatiran di seluruh pasar global adalah bahwa ini hanya sebuah penguatan jangka pendek dan kita akan menemukan diri kita kembali beberapa pekan lalu, melihat pertumbuhan global jangka panjang melambat,” ujar Nick Twidale, analis di Rakuten Securities Australia.

“Dalam jangka pendek tampaknya kita mungkin menemukan investor sekali lagi kembali ke fluktuasi sentimen perdagangan saat pemberitaan menyentuh pasar sedikit demi sedikit mengenai progres kesepakatan perdagangan.”

Berbanding terbalik dengan kondisi di pasar ekuitas pagi ini, harga minyak terus naik setelah melonjak sekitar 4% pada perdagangan Senin (3/12) didorong sentimen kesepakatan AS-China dan menjelang pertemuan OPEC pekan ini yang diperkirakan akan menghasilkan pemangkasan suplai.

Harga minyak mentah AS terakhir kali terlihat naik 0,5% ke level US$53,23 per barel.

Tag : bursa asia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top