Damai Trump-Xi Jinping Angkat Prospek Komoditas, Sektor Tambang Dongkrak IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mempertahankan reboundnya dan berakhir menguat lebih dari 1% pada perdagangan hari ini, Senin (3/12/2018), di tengah penguatan bursa saham global
Renat Sofie Andriani | 03 Desember 2018 18:03 WIB
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas Indonesia, Jakarta, Jumat (9/11/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mempertahankan reboundnya dan berakhir menguat lebih dari 1% pada perdagangan hari ini, Senin (3/12/2018), di tengah penguatan bursa saham global menyusul ‘gencatan senjata’ yang disepakati para pemimpin Amerika Serikat (AS) dan China.

IHSG ditutup menguat 1,03% atau 62,20 poin di level 6.118,32, level penutupan tertinggi sejak 24 April. Pada perdagangan Jumat (30/11/2018), IHSG berakhir terkoreksi 0,84% atau 51,04 poin di posisi 6.056,12.

IHSG mulai rebound dari koreksinya saat dibuka dengan kenaikan tajam 1,02% atau 61,94 poin di level 6.118,06 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG konsisten bergerak di zona hijau di kisaran 6.101,74 – 6.157,30.

Seluruh sembilan sektor menetap di teritori positif, dipimpin sektor tambang (+2,51%), properti (+2,19%), dan pertanian (+2,18%).

 Dari 618 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 235 saham menguat, 177 saham melemah, dan 206 saham stagnan.

Saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang menguat 3,67% beserta sejumlah saham emiten bank menjadi pendorong utama terhadap penguatan IHSG pada akhir perdagangan (lihat tabel).

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis 27 mempertahankan reboundnya dan ditutup menguat 0,80% atau 4,36 poin di level 550,09, setelah berakhir melorot 1,37% atau 7,58 poin di level 545,73 pada Jumat (30/11).

Indeks saham lainnya di Asia terpantau juga menguat sore ini, di antaranya indeks PSEi Filipina (+2,24%), indeks FTSE KLCI Malaysia (+1,18%), indeks FTSE Straits Times Singapura (+2,34%), dan indeks SE Thailand (+1,90%).

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing ditutup menguat 1,30% dan 1%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan ditutup menguat 1,67%.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China menguat lebih dari 2% masing-masing, diikuti indeks Hang Seng Hong Kong yang berakhir menguat 2,55%.

Dilansir dari Reuters, indeks MSCI all-country world menanjak 0,9% dan menyentuh level tertingginya sejak 9 November. Bursa saham emerging market juga menguat 2,1% menuju kenaikan harian terbesarnya dalam satu bulan.

Adapun bursa saham Eropa dibuka naik tajam, dengan indeks DAX Jerman – yang paling sensitif terhadap isu tentang China dan kekhawatiran perang dagang – memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 2,5% ke level tertingginya sejak 14 November. Bursa Wall Street di Amerika Serikat pun siap membuka sesi perdagangannya hari ini dengan lebih kuat.

Bursa saham global menguat setelah pemerintah China dan AS, dalam pertemuan di sela-sela perhelatan KTT G20 akhir pekan kemarin, sepakat untuk menghentikan pengenaan tarif tambahan antara satu sama lain.

Kesepakatan tersebut mencegah eskalasi perang dagang yang berkelanjutan dengan kedua belah pihak mencoba menjembatani perbedaan melalui pembicaraan-pembicaraan baru yang bertujuan mencapai kesepakatan dalam periode 90 hari.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan bahwa China telah setuju untuk mengurangi dan menghapus tarif pada mobil yang diimpor ke China dari AS. Kabar ini membantu mendorong penguatan saham otomotif Eropa.

“Kita melihat kesepakatan. Itu adalah berita bagus untuk pasar finansial global dan mengisyaratkan awal untuk penguatan akhir tahun dalam aset berisiko,” kata pakar strategi makro global Bernd Berg di Woodman Asset Management, seperti dikutip Reuters.

“Kita akan melihat penguatan di pasar negara berkembang dan ekuitas AS, mata uang emerging market dan aset-aset yang terkait dengan China seperti Australia. Saya memperkirakan penguatan akan berlangsung hingga akhir tahun.”

Bersama IHSG, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berakhir menguat 58 poin atau 0,41% di level Rp14.244 per dolar AS, setelah berakhir dengan penguatan 81 poin atau 0,56% di posisi 14.302 per dolar AS pada Jumat (30/11).

Menurut Hariyanto Wijaya, kepala riset di Mirae Asset Sekuritas Indonesia, ‘gencatan senjata’ antara AS dan China dapat mendukung harga-harga komoditas mengingat pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) China kemungkinan tidak akan menyusut seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

UNVR

+3,67

BMRI

+2,70

BBRI

+1,93

BBNI

+2,94

UNTR

+4,00

Saham-saham penekan IHSG:

Kode

(%)

BBCA

-0,96

ICBP

-2,28

SMGR

-3,53

GGRM

-1,16

LINK

-6,16

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG, perang dagang AS vs China
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top