AS-China Buat Terobosan, Bursa Asia Menguat

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan pagi ini, Senin (3/12/2018), setelah para pemimpin Amerika Serikat (AS) dan China memutuskan untuk 'gencatan senjata' perihal konflik perdagangan mereka.
Renat Sofie Andriani | 03 Desember 2018 09:15 WIB
BUrsa Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan pagi ini, Senin (3/12/2018), setelah para pemimpin Amerika Serikat (AS) dan China memutuskan untuk 'gencatan senjata' perihal konflik perdagangan mereka.

Berdasarkan data Reuters, indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang naik 0,6%, sedangkan indeks Nikkei Jepang menguat 0,9% ke level tertingginya dalam enam pekan.

“Pasar dibuka dengan dorongan spontan terhadap daya tarik aset berisiko, tetapi waktu akan menunjukkan bagaimana bertahannya optimisme itu nanti,” kata ekonom ANZ, Jo Masters, seperti dikutip Reuters.

“Tapi untuk saat ini, kedua belah pihak bisa mengklaim kemenangan.”

Pemerintah China dan AS sepakat untuk menghentikan pengenaan tarif tambahan dalam sebuah kesepakatan yang menghindari semakin memanasnya perang dagang.

Kedua pihak mencoba kembali berupaya untuk menjembatani perbedaan mereka dengan pembicaraan-pembicaraan baru yang bertujuan mencapai kesepakatan dalam 90 hari.

Pada Sabtu (1/12/2018) pihak Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden Donald Trump mengatakan kepada Presiden China Xi Jinping bahwa ia tidak akan menaikkan tarif pada barang-barang China senilai US$200 miliar menjadi 25% pada 1 Januari seperti yang direncanakan sebelumnya.

“Isu-isu struktural yang sangat kontroversial seperti transfer teknologi paksa masih belum terselesaikan,” kata analis Westpac FX, Robert Rennie.

“Perjanjian AS-China ini dengan demikian lebih baik dicirikan sebagai “terobosan kecil” yang menempatkan jeda sesaat pada ketegangan perdagangan alih-alih kesepakatan kebijakan yang komprehensif.”

Selain pasar saham, mata uang yang terekspos isu pedagangan juga menguat, dengan dolar Australia menyentuh level terkuatnya dalam empat bulan pagi ini. Di sisi lain, dolar AS tergelincir terhadap yuan China.

Progres mengenai hubungan China dan AS berikut penurunan dolar AS dapat memberikan sedikit dukungan untuk harga komoditas.

Harga minyak Brent menguat US$1,62 ke level US$61,09 per barel pagi ini, sedangkan minyak WTI menguat US$1,52 menjadi level US$52,45. Minyak juga mendapatkan dukungan dari spekulasi bahwa OPEC dan Rusia dapat menyetujui pengurangan produksi dalam pertemuan di Wina mendatang,

Tag : bursa asia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top