Dolar AS 'Gelisah' Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di kisaran sempit pada perdagangan siang ini, Jumat (30/11/2018), menjelang pertemuan para pemimpin AS dan China yang dapat menentukan arah perkembangan perang dagang antara kedua negara.
Renat Sofie Andriani | 30 November 2018 12:38 WIB
Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Presiden AS Donald Trump. - .Reuters/Toby Melville

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di kisaran sempit pada perdagangan siang ini, Jumat (30/11/2018), menjelang pertemuan para pemimpin AS dan China yang dapat menentukan arah perkembangan perang dagang antara kedua negara.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama di dunia turun hanya 0,003 poin ke level 96,775 pada pukul 11.43 WIB.

Pergerakan indeks dolar AS sebelumnya dibuka turun tipis 0,018 poin atau 0,02% di level 96,760, setelah pada perdagangan Kamis (29/11) berakhir turun 0,01% atau 0,008 poin di posisi 96,778.

Dolar AS telah berada di bawah tekanan pekan ini di tengah tumbuhnya ekspektasi bahwa otoritas moneter AS Federal Reserve akan memperlambat laju pengetatan moneternya.

Hal ini diperkuat pernyataan yang disampaikan oleh Gubernur The Fed Jerome Powell pada Rabu (28/11) soal tingkat suku bunga yang diperkirakan sudah mendekati level netral.

Namun, terlepas dari komentar bernada dovish dari sejumlah pejabat The Fed, dolar AS tidak mengalami aksi jual dalam skala besar, sebagian karena kekuatan ekonomi AS, melemahnya pertumbuhan di negara lain, dan status dolar AS sendiri sebagai mata uang safe haven di tengah perang dagang China-AS.

Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada pertemuan yang direncanakan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela perhelatan KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, antara 30 November-1 Desember.

Trump sendiri telah menyampaikan beragam sinyal tentang prospek kesepakatan perdagangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Trump pernah mengutarakan kemungkinan akan maju dengan rencana untuk menaikkan tarif dari 10% menjadi 25% terhadap barang-barang China senilai US$200 miliar.

“Jika tarif terhadap impor China tetap 10%, dolar AS kemungkinan akan melemah akibat meningkatnya minat terhadap aset berisiko,” kata Nick Twidale, chief operation officer Rakuten Securities, seperti dilansir dari Reuters.

Pada saat yang sama, investor juga mencermati setiap perubahan dalam kebijakan moneter AS.

Dalam risalah pertemuan 7-8 November yang dirilis pada Kamis (29/11) waktu setempat para pembuat kebijakan mengisyaratkan akan mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dalam hal kenaikan suku bunga bertahap setelah kemungkinan penaikan pada Desember.

Para pembuat kebijakan juga masih memperdebatkan kapan bank sentral AS tersebut mungkin akan menghentikan siklus pengetatan moneternya dan bagaimana akan menyampaikan rencana tersebut kepada publik.

The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan kebijakan terakhirnya tahun ini pada bulan Desember, yang akan menjadi kenaikan keempat untuk tahun ini.

Menurut FedWatch Tool CME Group, pasar saat ini hanya berspekulasi atas satu kali penaikan suku bunga untuk 2019, di bawah proyeksi The Fed atas tiga kali kenaikan selama tahun tersebut.

Posisi indeks dolar AS                                                                        

30/11/2018

(Pk. 11.43 WIB)

96,775

(-0,003 poin)

29/11/2018

 

96,778

(-0,01%)

28/11/2018

 

96,786

(-0,60%)

27/11/2018

 

97,369

(+0,30%)

26/11/2018

97,074

(+0,16%)

Sumber: Bloomberg

 

 

Tag : dolar as, Donald Trump
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top