Dolar AS Tertekan, Analis Peringatkan Soal Komentar Dovish Powell

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) memperpanjang pelemahannya hingga perdagangan siang ini, Kamis (29/11/2018), setelah Gubernur Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan pernyataan yang terlihat sebagai sinyal bahwa siklus kenaikan suku bunga mendekati akhir.
Renat Sofie Andriani | 29 November 2018 12:53 WIB
Karyawan memegang mata uang dolar AS di tempat penukaran valuta asing, Jakarta, Kamis (8/11/2017). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) memperpanjang pelemahannya hingga perdagangan siang ini, Kamis (29/11/2018), setelah Gubernur Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan pernyataan yang terlihat sebagai sinyal bahwa siklus kenaikan suku bunga mendekati akhir.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama di dunia melemah 0,110 poin atau 0,11% ke level 96,676 pada pukul 11.40 WIB.

Pergerakan indeks dolar AS sebelumnya dibuka naik tipis 0,063 poin atau 0,07% di level 96,849, setelah pada perdagangan Rabu (28/11) berakhir dengan pelemahan 0,60% atau 0,583 poin di posisi 96,786.

Komentar bernada dovish yang disampaikan oleh Powell pada Rabu (28/11/2018) waktu setempat bahwa rangkaian penaikan suku bunga oleh The Fed telah membawa kebijakan suku bunga ”persis di bawah” kisaran perkiraan netral telah mengejutkan pasar mata uang.

Pandangan ini berbeda dari komentarnya pada Oktober, ketika Powell mengatakan bahwa suku bunga “jauh dari netral pada titik ini”. Komentarnya serta merta menekan pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya.

“Komentar Powell dinilai terlalu hawkish pada Oktober, sampai batas tertentu komentarnya semalam telah mengimbangi komentar sebelumnya,” kata Rodrigo Catril, pakar strategi mata uang senior di NAB, seperti dikutip Reuters.

“Pertanyaannya sekarang adalah seberapa banyak lagi pasar bisa melihat kondisi dovish dalam hal ekspektasi kenaikan suku bunga. Para investor kini memperhitungkan kenaikan suku bunga pada Desember dan hanya satu kenaikan suku bunga pada 2019,” lanjutnya.

Namun, beberapa analis memperingatkan agar komentar Powell tidak dilihat sebagai terlalu dovish.

“Pasar mungkin telah salah menafsirkan pesan dan fokus hanya pada kalimat bahwa suku bunga ‘persis di bawah kisaran perkiraan’” kata Eugene Leow, pakar strategi suku bunga di DBS, dalam risetnya.

Para pelaku pasar selanjutnya menantikan risalah pertemuan The Fed pada 7-8 November yang akan dirilis hari ini waktu setempat, demi mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang arah kenaikan suku bunga di masa mendatang.

Para pedagang juga mungkin bersikap hati-hati menjelang perhelatan KTT G20 pada 30 November-1 Desember, di mana Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping direncanakan akan bertemu untuk membahas isu-isu perdagangan.

“Aksi beli terhadap aset safe haven dapat kembali menguntungkan greenback jika tidak ada tanda-tanda gencatan senjata antara pemerintah AS dan China selama KTT G20,” tambah Catril.

Posisi indeks dolar AS                                                                        

29/11/2018

(Pk. 11.40 WIB)

96,676

(-0,11%)

28/11/2018

 

96,786

(-0,60%)

27/11/2018

 

97,369

(+0,30%)

26/11/2018

97,074

(+0,16%)

23/11/2018

96,916

(+0,21%)

Sumber: Bloomberg

Tag : dolar as
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top