Salim Ivomas Pratama, Ekspansi di Tengah Tantangan Harga Sawit

PT Salim Ivomas Pratama Tbk. Menjadi bagian grup Indofood yang mengerjakan bidang perkebunan. Emiten berkode SIMP itu lebih dikenal dengan lini usaha sawitnya, tetapi perseroan juga menggarap sektor perkebunan lainnya. Ini kisahnya
Ahmad Rifai | 29 November 2018 18:00 WIB
Salim Ivomas Pratama salah satu anak usaha grup Indofood yang bergerak di bisnis perkebunan. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – PT Salim Ivomas Pratama Tbk. Menjadi bagian grup Indofood yang mengerjakan bidang perkebunan. Emiten berkode SIMP itu lebih dikenal dengan lini usaha sawitnya, tetapi perseroan juga menggarap sektor perkebunan lainnya.

SIMP didirikan dengan nama PT Ivomas Pratama pada 12 Agustus 1992 dan mulai melakukan kegiatan komersial pada 1994.

Tiga tahun berjalan secara komersial, SIMP menjadi bagian dari grup Indofood. Di bawah naungan konglomerasi Indofood, perseroan pun ekspansi dengan mengakuisisi kebun maupun perusahaan.

Perseroan kian agresif akuisisi mulai 2005, pada periode itu SIMP ambil alih lahan perkebunan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Setahun kemudian, induk usahanya, Indofood, memutuskan merger SIMP dengan 5 perusahaan lainnya yakni, Intiboga Sejahtera, Bitung Manado Oil Industry, Sawitra Oil Grains, Pratiwimba Utama, dan Gentala Artamas. Perseroan pun ditunjuk sebagai entitas induknya.

Tak hanya itu, pada 2006, perseroan juga melakukan akuisisi pusat penelitian, pengembangan, dan pembiakan bibit di Riau, serta kembali akuisisi lahan perkebunan di Kalimantan Barat.

Aksi akuisisi lahan pun terus berlanjut, kali ini wilayah Sumatra Selatan menjadi incaran perusahaan sawit grup Indofood tersebut.

Perseroan makin ekspansif setelah mengakuisisi PT London Sumatra Plantations Tbk pada 2007. SIMP menggelontorkan investasi Rp8,4 triliun untuk akuisisi emiten berkode LSIP tersebut.

Pada 2008, perseroan mulai diversifikasi ke bisnis gula melalui penyertaan saham di PT Lajuperdana Indah. Selain itu, SIMP juga mengakuisisi lahan perkebunan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah.

Agresivitas akuisisi kebun terus dilanjutkan perseroan pada 2009. SIMP kembali menambah kepemilikan lahannya di Sumatra Selatan.

 Salim Ivomas Pratama Melantai Di Bursa

Pada 2011, SIMP akhirnya memutuskan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan yang memiliki lini usaha perkebunan itu melepas 3,16 juta saham dengan harga penawaran Rp1.100 per saham.

Setelah agresif akuisisi kebun, SIMP mulai melebarkan keberagaman lini usahanya pada 2014.

Perseroan mendirikan perusahaan patungan bersama PT Wahana Inti Selaras yang bergerak di bidang pembangunan jalan dan infrastruktur perkebunan, serta menyewakan alat-alat berat.

Pada tahun yang sama, perseroan juga mengembangkan bisnis gula lewat akuisisi PT Madusari Lampung Indah.

Dua tahun kemudian, SIMP mulai menjajal bisnis teh setelah mengakuisisi PT Pasir Luhur.

Tak berhenti di teh, perseroan juga mendirikan perusahaan patungan dengan Daito Cacao Co. Ltd. Pada 2016. Nantinya, perusahaan patungan itu akan memproduksi dan memasarkan produk coklat di Indonesia.

Saat ini, SIMP tengah membangun pabrik pengolahan biji kakao di Purwakarta, Jawa Barat lewat perusahaan patungan dengan Daito Cacao Co. Ltd. Investasi pembangunan pabrik itu ditaksir senilai US$30 juta hingga US$35 juta.

Pabrik itu diprediksi bakal rampung pada kuartal IV/2019.

Saat ini, komposisi pemegang saham SIMP mayoritas masih dipegang Indofood Agri Resources LTD sebanyak 73,46%, Pt Indofood Sukses Makmur Tbk. 6,68%, publik 19,86, serta beberapa lembar saham yang dimiliki Taufik Wiraatmadja dan Tan Agustinus Dermawan yang merupakan komisaris dan direktur perseroan.

Adapun, kinerja perseroan sampai kuartal III/2018 mengalami penurunan. Dari segi pendapatan mencatatkan penurunan 14,96% menjadi Rp10,4 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu, sedangkan laba bersih turun 85,66% menjadi Rp70,67 miliar.

Pada penutupan perdagangan Kamis (29/11), harga saham SIMP mencatatkan kenaikan sebesar 0,88% menjadi Rp458 per saham dengan kapitalisasi pasar senilai Rp7,24 triliun dan P/E ratio sebesar 37,81 kali.

Tag : kelapa sawit, kinerja emiten
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top