Progres Kesepakatan Brexit Dorong Bursa Asia Naik Tipis

Bursa saham Asia naik tipis pada perdagangan pagi ini, Jumat (23/11/2018), saat investor enggan membuat pertaruhan besar dalam menghadapi ketegangan perdagangan, tanda-tanda perlambatan kinerja keuangan perusahaan, dan negosiasi Brexit.
Renat Sofie Andriani | 23 November 2018 09:21 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia naik tipis pada perdagangan pagi ini, Jumat (23/11/2018), saat investor enggan membuat pertaruhan besar dalam menghadapi ketegangan perdagangan, tanda-tanda perlambatan kinerja keuangan perusahaan, dan negosiasi Brexit.

Sebuah draf kesepakatan antara Inggris dan Uni Eropa mengenai hubungan kedua belah pihak di masa mendatang memberi sedikit harapan bagi pasar, meskipun bukti tekanan terhadap kinerja keuangan korporasi di Eropa membuat investor pasar ekuitas tetap berjaga-jaga.

Dengan tiadanya perdagangan di bursa Amerika Serikat (AS) semalam karena libur Thanksgiving juga di bursa Jepang pada hari ini, aktivitas perdagangan relatif sepi.

Indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang naik tipis 0,1% pada awal perdagangan, sedangkan bursa saham Australia naik 0,23% dan indeks Kospi Korea Selatan bergerak flat.

Sementara itu pada perdagangan Kamis (22/11), pasar saham di Eropa terpukul oleh update kinerja keuangan perusahaan yang mengecewakan akibat terbebani tanda-tanda lebih lanjut bahwa pertumbuhan laba perusahaan sedang memuncak secara global.

Hal ini menggarisbawahi berlanjutnya keresahan di kalangan investor ekuitas setelah sentimen tensi perdagangan, perlambatan investasi dan pertumbuhan global memengaruhi pasar saham pada Oktober.

Di pasar mata uang, nilai tukar pound sterling terhadap dolar AS bergerak flat di US$1,2878 setelah naik lebih dari 1% pada Kamis (22/11) menyusul pemberitaan tentang draf perjanjian antara Inggris dan Uni Eropa, yang menggambarkan hubungan dekat pascaBrexit.

Kesepakatan itu mengikuti rancangan perjanjian pekan lalu yang menetapkan sejumlah ketentuan bagi keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada bulan Maret.

Namun kesepakatan itu menghadapi perjalanan yang sulit setelah mencapai parlemen Inggris yang memiliki perbedaan pendapat, dengan faksi konservatif dan faksi proUni Eropa maupun pandangan berbeda di dalamnya.

“Setelah para pemimpin Uni Eropa diperkirakan akan menyetujui deklarasi politik ini bersama dengan perjanjian penarikan dalam pertemuan puncak pada hari Minggu, 'pemungutan suara yang menentukan' di Parlemen Inggris kemungkinan dilakukan pada pekan kedua bulan Desember,” jelas analis di National Australia Bank.

“Rasanya akan terlalu optimistis untuk menyatakan kemenangan atas kesepakatan itu saat ini.”

Tag : bursa asia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top