Dolar AS Melemah Jelang Libur Thanksgiving, Rupiah Pamer Otot

Nilai tukar rupiah berhasil unjuk kekuatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis (22/11/2018), saat sebagian mata uang lain di Asia justru melemah.
Renat Sofie Andriani | 22 November 2018 19:30 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah berhasil unjuk kekuatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis (22/11/2018), saat sebagian mata uang lain di Asia justru melemah.  

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot rebound dengan berakhir terapresiasi 23 poin atau 0,16% di level Rp14.580 per dolar AS.

Padahal, rupiah terpantau sempat melanjutkan pelemahannya saat dibuka terdepresiasi tipis 1 poin atau 0,01% di posisi 14.604, setelah ditutup melemah 15 poin atau 0,10% di Rp14.603 per dolar AS pada perdagangan Rabu (21/11).

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak fluktuatif di level Rp14.570 – Rp14.607 per dolar AS.

Selain rupiah, rupee India dan won Korea Selatan terapresiasi sebesar 1,08% dan 0,17% masing-masing terhadap dolar AS. Namun beberapa mata uang lainnya melemah, dipimpin baht Thailand yang terdepresiasi 0,3% pada pukul 18.40 WIB.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau lanjut melemah 0,204 poin atau 0,21% ke level 96,508 pada pukul 18.31 WIB.

Pergerakan indeks dolar sebelumnya dibuka flat di level 96,715, setelah berakhir terkoreksi 0,124 poin atau 0,13% di posisi 96,712 pada Rabu (21/11).

Dilansir dari Bloomberg, rupee mampu memimpin penguatan di antara sejumlah mata uang di Asia terhadap dolar AS saat harga minyak mentah kembali tertekan dan dolar AS melemah menjelang libur Thanksgiving di Amerika Serikat (AS) pada Kamis (22/11) waktu setempat.

“Saat Amerika Serikat merayakan libur Thanksgiving, ada tanda-tanda menyurutnya momentum dolar,” jelas AmBank dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januari 2019 terpantau melorot 1,10% atau 0,60 poin ke level US$54,03 per barel pada pukul 18.53 WIB, setelah rebound lebih dari 2% ke level 54,63 pada akhir perdagangan Rabu (21/11).

Harga minyak mentah AS tersebut diperdagangkan di bawah level US$55 per barel saat ekspansi persediaan minyak mentah di AS menambah sentimen bearish yang datang dari seruan baru oleh Presiden AS Donald Trump untuk harga minyak yang lebih rendah.

Pada saat yang sama, Federal Reserve AS dikabarkan mulai mempertimbangkan jeda untuk pengetatan moneter bertahap dan dapat mengakhiri siklus kenaikan suku bunganya pada musim semi, mengutip sejumlah pejabat senior di bank sentral AS tersebut.

The Fed dinilai akan berhati-hati untuk terus menaikkan suku bunga pada tahun depan. Prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi global, berkurangnya manfaat stimulus fiskal di AS, dan volatilitas pasar keuangan akan menjadi tantangan bagi para pembuat kebijakan setelah menaikkan suku bunga pada bulan depan ke wilayah netral, atau mendekati netral.

Spekulasi mengenai seberapa banyak The Fed akan mengerek suku bunga pada tahun depan pun menyurut, setelah The Fed memperdengarkan komentar bernada dovish dalam beberapa pekan terakhir. 

“The Fed telah menjadi sadar akan kemungkinan menghentikan kenaikan suku bunganya, dengan mempertimbangkan perlambatan pertumbuhan ekonomi global bahkan ketika ekonomi AS terus berlanjut baik,” kata Hideyuki Ishiguro, pakar strategi senior di Daiwa Securities Co.

“Kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga akan berfungsi sebagai rem terhadap pertumbuhan ekonomi dan kekhawatiran seputar pelemahan mata uang pasar negara berkembang akan berkurang.”

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top