Bursa Asia Naik Ikuti Wall Street, Prospek Dolar AS Cerah

Bursa Asia bergerak naik dengan hati-hati pada perdagangan pagi ini, Kamis (22/11/2018), saat harga minyak rebound meskipun kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan eskalasi tensi dagang tetap memengaruhi pasar keuangan.
Renat Sofie Andriani | 22 November 2018 08:41 WIB
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia bergerak naik dengan hati-hati pada perdagangan pagi ini, Kamis (22/11/2018), saat harga minyak rebound meskipun kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan eskalasi tensi dagang tetap memengaruhi pasar keuangan.

Harga minyak menanjak sekitar US$1 per barel pada Rabu (21/11) menyusul data pemerintah AS yang menunjukkan kuatnya permintaan untuk bensin dan minyak diesel, terlepas dari bertahannya kekhawatiran tentang suplai minyak mentah yang meningkat.

Berdasarkan data Reuters, indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang naik 0,2% dan sejauh ini mampu membukukan kenaikan pada November setelah tiga bulan berturut-turut sebelumnya menurun. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang naik 0,5% dan bursa Australia menguat 0,6% pagi ini. 

Kendati demikian, untuk tahun ini, indeks MSCI berada di jalur kinerja tahunan terburuknya sejak 2011, sebagian karena keresahan atas prospek melemahnya laba perusahaan.

Pada perdagangan Rabu (21/11), indeks S&P 500 mampu rebound meskipun tetap berada di kisaran level terendahnya pada sesi tersebut. Adapun Dow Jones hanya berakhir flat menjelang liburan Thanksgiving di AS.

“Pasar mengalami malam yang lebih baik semalam, tetapi pantas jika dikatakan sentimen tetap terlihat rapuh,” jelas analis ANZ mengatakan dalam risetnya, seperti dikutip Reuters.

“Tampaknya ada apresiasi yang lebih besar bahwa dengan dampak stimulus fiskal AS yang memudar, ekonomi AS bisa melambat seperti negara berekonomi besar lainnya.”

Tingkat pengangguran AS berada di level terendahnya dalam 49 tahun dan ekonomi berekspansi pada tingkat tahunan 3,5%, meskipun banyak ekonom saat ini memercayai bahwa membengkaknya defisit anggaran federal AS dan proteksionisme perdagangan dapat merugikan pertumbuhan pada 2020.

“Ini membuat pasar kurang menerima berita buruk entah itu tentang perdagangan atau pasar kredit. Intinya, gambaran volatilitas yang lebih tinggi ini dapat bertahan kecuali pertumbuhan global dapat menghasilkan perubahan,” lanjut analis ANZ.

Ekspansi global tersinkronisasi yang dimulai kira-kira dua tahun lalu kini telah mendatar, dan tanda-tanda baru atas prospek yang lebih lemah muncul. Volume perdagangan global masih meningkat meskipun dengan laju yang lebih lambat.

Selain itu, sejumlah indikator ekonomi utama yang dimonitor oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) telah melemah sejak awal tahun ini dan menunjukkan ekspansi yang lebih lambat ke depannya untuk Inggris dan kawasan euro secara keseluruhan.

Sementara itu, bank sentral AS Federal Reserve tetap di jalur pengetatannya setelah mengakhiri era suku bunga di kisaran nol pada Desember 2015.

Suku bunga AS saat ini berada di 2%-2,25% dan diperkirakan akan lanjut naik dalam pertemuan kebijakan The Fed terakhir tahun ini pada Desember.

Merespons langkah pengetatan tersebut, dolar AS telah mengungguli sebagian besar mata uang lain tahun ini. Indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama naik hampir 5% tahun ini. Sebagai perbandingan, mata uang yen Jepang hanya bergerak datar sepanjang tahun ini.

Marios Hadjikyriacos, analis di perusahaan pialang XM.Com, mengatakan saat ini greenback adalah mata uang untuk segala kondisi.

“Mata uang ini bisa bersinar baik dalam aksi penghindaran risiko mengingat statusnya sebagai aset cadangan dunia, maupun dalam aksi buru aset berisiko karena perbedaan yield yang lebar mencerahkan daya tariknya,” terang Hadjikyriacos.

Ia memperkirakan dolar AS akan mengakhiri tahun ini dengan catatan yang baik.

Tag : bursa asia, dolar as
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top