Faktor Eksternal Tahan Laju Penguatan SBN

Analis menilai masih cukup banyak sentimen negatif eksternal yang akan menahan laju kenaikan harga obligasi domestik, meskipun pasar obligasi domesik secara perlahan kini tengah berupaya mengubah tren menuju penguatan setelah lama melemah.
Emanuel B. Caesario | 21 November 2018 08:18 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA—Analis menilai masih cukup banyak sentimen negatif eksternal yang akan menahan laju kenaikan harga obligasi domestik, meskipun pasar obligasi domesik secara perlahan kini tengah berupaya mengubah tren menuju penguatan setelah lama melemah.

Berdasarkan laporan mingguan IBPA, kinerja pasar obligasi dalam negeri yakni Surat Berharga Negara (SBN) pekan lalu berlanjut reli, meskipun dengan persentase kenaikan yang tipis dibandingkan pekan sebelumnya (wow).

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) naik +0,16% wow ke level 237,3559. Sementara itu, INDOBeXG-Total Return dan INDOBeXC-Total Return masing-masing naik sebesar +0,18% wow dan +0,09% wow.

Kinerja pasar SBN sempat tertekan dalam 2 hari pertama terpicu oleh inflasi China  bulan Oktober yang turun ke level 0,2%, serta efek lanjutan dari defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar 3,37%PDB.

Namun, menguatnya kurs Jisdor BI menjadi penopang laju positif pasar SBN. Secara mengejutkan, Bank Indonesia menaikkan BI 7-day RR ke level 6,0% pada RDG-BI pekan laludan langsung direspon positif oleh pelaku pasar.

Meskipun demikian, secara umum aktivitas transaksi di pasar sekunder SBN pekan lalu kurang semarak. Rata-rata volume perdagangan harian turun sebesar 49,54% wow dari Rp16,44 triliun/hari menjadi Rp8,30 triliun/hari; dan frekuensi harian turun 21,91% wow dari 644 kali/hari menjadi 503 kali/hari.

Sepinya transaksi paling dirasakan oleh seri-seri bertenor panjang. Akumulasi penurunan volume transaksi harian SBN tenor panjang pekan ini mencapai Rp6,87 triliun/hari dalam 111 kali transaksi/hari-nya.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa dukungan kenaikan tingkat suku bunga Bank Indonesia menyebabkan pasar obligasi perlahan mulai memasuki tren kenaikan harga.

Selain itu, sejauh ini fondasi penopang bagi kenaikan harga SBN cukup siap di pasar, salah satunya adalah turunnya probabilitas kenaikan tingkat suku bunga acuan The Fed pada bulan Desember nanti dari semula 75,8% pada awal bulan ini menjadi 68,9% per akhir pekan lalu.

Hal ini merespon pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell terhadap pertumbuhan ekonomi global yang secara perlahan melambat sehingga berpotensi menahan kenaikan Fed Fund Rate bulan depan.

Meskipun demikian, Nico mengatakan segala kemungkinan masih bisa terjadi. Kenyataannya, di pasar global masih berkembang sejumlah sentimen yang berpotensi melemahkan harga obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di antaranya yakni proses Brexit yang ternyata tidak semulus yang dipeharapkan pasar. Selain itu, perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga masih memanas, kendati kedua pihak menyatakan sudah berdiskusi di setiap level pemerintahan terkait pertemuan 30 November 2018 nanti.

Dalam KTT APEC pekan lalu, ego kedua negara menyebabkan KTT kesulitan menyusun kesimpulan. Perseteruan ini akan memberikan tekanan bagi kedua negara pada pertemuan akhir bulan ini.

“Kami menilai masih cukup banyak sentimen negatif yang akan mempengaruhi penguatan pasar obligasi. Saat ini, obligasi berdurasi 15 tahun kami lihat proses penguatannya sudah mencapai batas, tetapi untuk 5 tahun, 10 tahun dan 20 tahun masih memiliki ruang,” katanya, Senin (19/11/2018).

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa pernyataan pejabat The Fed yang cendurung dovish dan menyebabkan yield US Treasury dan indeks dollar turun.

Selain itu, rilis beberapa data makroekonomi AS, salah satunya yakni produksi industri AS yang turun yang turun dari bulan sebelumnya sebesar 0,3% MoM menjadi 0,1% MoM juga mendukung penurunan yield US Treasury dan indeks dollar. Ini menjadi sentimen positif bagi pasar SBN.

Di sisi lain, turunnya harga minyak mentah dunia kurang lebih sebesar 33,89% dibandingkan level tertinggi tahun ini pada Oktober lalu untuk kategori WTI beberapa pekan lalu juga akan menjadi sinyal bagi penurunan yield obligasi Indonesia.

Meski begitu, penurunan yield di pasar sejauh ini belum sepenuhnya terjadi, sehingga Dhian menyarankan investor untuk mengantisipasi arah pergerakan pasar dengan mengoleksi beberapa seri SBN yang likuid, seperti FR0063, FR0064, FR0077, FR0078, FR0065, dan FR0075.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa minimnya data domestik yang akan dirilis pekan ini hingga akhir November 2018 menyebabkan faktor eksternal akan mendominasi pergerakan harga SBN di pasar sekunder.

Faktor eksternal yang perlu dicermati yakni notulen dari RDG Bank Sentral Eropa yang akan disampaikan pada Kamis (22/11/2018) waktu setempat. Fokus investor adalah pada kebijakan yang akan diambil oleh ECB di masa mendatang.

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top