Wall Street Kembali Terpukul Aksi Jual, Ini Penyebabnya

Aksi jual kembali memukul bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (20/11/2018), saat saham energi turun bersama harga minyak dan saham peritel seperti Target dan Kohl meluncur menyusul kinerja dan proyeksi keuangan yang lesu.
Renat Sofie Andriani | 21 November 2018 06:58 WIB
Bursa Wallstreet - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi jual kembali memukul bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (20/11/2018).

Penurunan terjadi akibat tekanan saham energi yang turun bersama harga minyak, dan saham peritel seperti Target dan Kohl meluncur menyusul kinerja dan proyeksi keuangan yang lesu.

Indeks S&P 500 ditutup melorot 1,82% atau 48,84 poin di 2.641,89, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 2,21% atau 551,8 poin di level 24.465,64. Sementara itu indeks Nasdaq Composite berakhir melemah 1,7% atau 119,65 poin di level 6.908,82.

Indeks Nasdaq ditutup di level terendahnya dalam lebih dari tujuh bulan, sedangkan indeks S&P 500 dan Dow Jones berakhir di titik terendahnya sejak akhir Oktober, sehari setelah saham Apple, internet dan teknologi lainnya jatuh.

Saham Apple kembali melemah pada perdagangan Selasa, turun 4,8% ke level terendahnya sejak awal Mei, seiring dengan kekhawatiran terus-menerus seputar melambatnya permintaan untuk iPhone.

Tanda-tanda menyurutnya permintaan untuk produk iPhone memiliki implikasi luas bagi perusahaan teknologi dan internet.

Saham Apple kini telah kehilangan lebih dari 20% dari nilainya, yang kira-kira mencapai US$250 miliar, sejak saham raksasa teknologi ini menyentuh rekor penutupan tertinggi pada 3 Oktober.

Goldman Sachs yang memangkas target harganya untuk Apple, kedua kalinya hanya dalam waktu sepekan, mengatakan keseimbangan harga dan fitur di iPhone XR baru mungkin belum diterima dengan baik oleh pengguna di luar Amerika Serikat.

Sementara itu, saham Target Corp. merosot 10,5% setelah laba kuartal ketiganya meleset dari perkiraan para analis. Investasi perusahaan dalam bisnis online berikut upah yang lebih tinggi dan pemangkasan harga membebani marginnya.

Adapun saham operator department store Kohl Corp melorot 9,2% setelah proyeksi laba full year-nya turun di bawah ekspektasi.

Di antara peritel lainnya, saham Lowe's Cos Inc. turun 5,7% setelah mengungkapkan rencana restrukturisasi lebih lanjut dalam menghadapi angka penjualan yang lebih buruk dari perkiraan.

Peringatan dari peritel menambah sentimen negatif bagi investor, yang telah bersikap hati-hati akibat pelemahan tajam pada saham teknologi baru-baru ini, perlambatan pertumbuhan global, momentum kinerja keuangan perusahaan yang memuncak, dan kenaikan suku bunga.

“Pasar menyesuaikan dengan awal 2019 yang terlihat berbeda dari bulan-bulan pada 2018 dimana ada kekhawatiran yang meningkat atas pertumbuhan global. Pertumbuhan AS tidak melemah secara dramatis tetapi melambat," kata Quincy Krosby, kepala strategi pasar di Prudential Financial di Newark, seperti dikutip Reuters.

Indeks energi S&P turun 3,3% sekaligus memimpin penurunan sektor, saat harga minyak AS berakhir turun 6,6% hari ini di tengah kekhawatiran tentang meningkatnya pasokan global. Adapun indeks ritel S&P 500 kehilangan 2,7% dalam penurunannya selama delapan sesi berturut-turut.

“Ini adalah kombinasi dari berbagai kekhawatiran yang muncul bersama-sama untuk memaksa para investor keluar dari pasar secara keseluruhan,” kata Robert Pavlik, kepala strategi investasi dan manajer portofolio senior di SlateStone Wealth LLC di New York.

Namun dia mengatakan volume tinggi pada hari yang mengalami penurunan baginya biasanya berarti "tanda awal kapitulasi" dan bahwa aksi jual mungkin mendekati akhir.

Tag : wall street
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top