Suparma Tunda Investasi Antisipasi Nilai Tukar & Suhu Politik

Produsen kertas PT Suparma Tbk. (SPMA) menunda investasi di awal 2019 mendatang mengantisipasi gejolak nilai tukar dan gelaran politik, pemilihan legislatif dan presiden.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 16 November 2018  |  06:29 WIB
Suparma Tunda Investasi Antisipasi Nilai Tukar & Suhu Politik
Direktur PT Suparma Tbk. Hendro Luhur (dari kanan) berbincang dengan Direktur Edward Sopanan, Corporate Secretary Buyung Octaviano, dan Komisaris Subiantara, menjelang paparan publik perseroan, di Surabaya, Kamis (15/11/2018). - JIBI/Wahyu Darmawan

Bisnis.com, SURABAYA – Produsen kertas PT Suparma Tbk. (SPMA) menunda investasi di awal 2019 mendatang mengantisipasi gejolak nilai tukar dan gelaran politik, pemilihan legislatif dan presiden.

Direktur Suparma Hendro Luhur mengatakan perseroan semula merencanakan membeli mesin nomor 10 dan 11. Investasi mesin tersebut sekaligus guna mempersiapkan produk baru.

"Awalnya buka LC (letter of credit) direncanakan Januari, tapi melihat kondisi saat ini, maka ditunda, sampai semester pertama 2019," jelasnya pada paparan publik di kantor Suparma di Warugunung, Surabaya, Kamis (15/11/2018).

Menurutnya pembiayaan investasi sudah siap disokong perbankan dengan pinjaman bernilai dolar. Sebanyak 70% investasi menggunakan eksternal dan sisanya dana internal.

"Tapi nilai tukar seperti ini ada risiko, makanya ditunda dulu," katanya sembari belum mau menyebut besaran nilai investasi yang direncanakan pada 2019.

Suparma merupakan produsen kertas tisu (selampai), kertas bungkus makanan (laminating wrapping kraft) dan duplex. Perseroan pada 2018 investasi US$2,7 juta untuk optimalisasi mesin no.1 dan no.6.

Hasilnya kapasitas terpasang perseroan tahun ini naik menjadi 14.100 metrik ton/tahun. Secara total, emiten yang melantai di bursa 1994 lampau ini memiliki kapasitas 250.906 ton naik 6% dari periode sebelumnya 236.800 ton. Adapun utilisasi tahun ini 86,1%.

"Kami yang akan investasi ini salah satunya untuk produk baru. Tapi kalau kondisi seperti ini, daya beli akan terpengaruh. Kami yang bermain di ritel (tisu) tentu harus berhati-hati," jelasnya.

Gejolak nilai tukar juga tercermin pada laporan laba rugi perseroan periode sampai 30 September.

Sembilan bulan pertama 2018 perseroan membukukan penjualan bersih Rp1,69 triliun naik 11,1% dari periode sama tahun sebelumnya Rp1,5 triliun. Setelah dikurangi beban pokok penjualan maka laba kotor tercatat Rp275,3 miliar.

Namun demikian, pada komponen beban lain, perseroan menanggung selisih kurs bersih Rp74,3 miliar.

Hendro mengatakan selisih kurs merupakan pencatatan yang secara umum tidak memengaruhi operasi. "Kami 24 persen bahan impor, tapi ekspor kami 10 persen cukup menutup beban impor ini," jelasnya.

Selain itu, kata dia, pergerakan harga kertas di dalam negeri juga menyesuaikan dengan nilai tukar. Oleh karenanya, gejolak kurs akan berimbas di pencatatan yang memengaruhi laba, penundaan investasi baru serta daya beli pasar.

Laporan laba rugi perseroan per September 2018 mencatat laba sebelum beban pajak Rp43,23 miliar turun 44% dibanding periode sama tahun sebelumnya
Rp78,11 miliar.

Hendro menegaskan kondisi tersebut tidak memengaruhi operasional karena rasio lancar masih tiga kali, margin kotor masih 16,2% dari penjualan. "Rasio EBITDA terhadap beban keuangan masih 5 kali," tegasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suparma, tisu

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top