Ini Alasan BEI Optimistis Fundraising Tahun Depan Tetap Tinggi

Bursa Efek Indonesia optimistis penggalangan dana di pasar modal pada tahun depan tetap tinggi, kendati sejumlah sentimen negatif mengintai.
Tegar Arief | 26 Oktober 2018 07:13 WIB
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi (kiri) saat menghadiri RUPSLB BEI, di Jakarta, Kamis (25/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia optimistis penggalangan dana di pasar modal pada tahun depan tetap tinggi, kendati sejumlah sentimen negatif mengintai.

Dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) yang digelar kemarin, Kamis (25/10), Bursa Efek Indonesia memaparkan sejumlah target yang akan diraih pada tahun depan, termasuk target penggalangan dana atau fundraising di pasar modal.

Pada 2019, BEI menargetkan jumlah penawaran umum, baik saham maupun surat utang meningkat dibandingkan dengan tahun ini. Jumlah penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada tahun depan ditargetkan sebanyak 35 perusahaan atau sama dengan tahun ini. Salah satu alasan BEI tidak menaikkan target jumlah emiten baru adalah adanya tahun politik yang dinilai akan memberikan ketidakpastian bagi investor.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD Nyoman Yetna mengatakan bahwa sejak 1999 jumlah perusahaan yang melakukan IPO pada tahun pelaksanaan pilpres selalu menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, kali ini bursa tetap optimistis dengan mempertahankan target yang sama.

Menurutnya, pelaku pasar banyak menaruh harapan pada hasil pemilihan presiden tahun depan. "Ini bentuk optimisme kami dengan tidak menurunkan target," kata dia, Kamis (25/10).

Di sisi lain, target jumlah emiten baru tahun ini sudah terlampaui. Hingga kemarin, jumlah emiten anyar yang hadir di BEI sudah mencapai 44 perusahaan dengan nilai emisi Rp14,04 triliun.

Sementara itu, target penerbitan obligasi yang dipatok bursa pada tahun depan juga cukup tinggi, yakni sebanyak 100 penerbit baru, naik dibandingkan dengan tahun ini sebanyak 80 penerbitan obligasi baru. Target tersebut terbilang cukup ambisius mengingat pasar obligasi tahun ini cukup sepi.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) penerbitan obligasi korporasi per pekan kedua Oktober 2018 mencapai Rp101,17 triliun dengan total 65 penerbitan obligasi baru. Adanya tren kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini dinilai menjadi penyebab utama sepinya penawaran umum obligasi.

Nyoman berdalih, korporasi masih memiliki kebutuhan pada tahun depan, terutama untuk refinancing sehingga penerbitan obligasi diyakini masih cukup marak. "Setiap perusahaan memiliki upaya untuk memperbaiki performance dan refinancing. Bagaimanapun kondisi ekonomi mereka tetap akan mencari dana di pasar modal karena yang murah," jelasnya.

Adapun target penerbitan right issue pada tahun depan ditaregtkan sebanyak 60 perusahaan tercatat. Target ini juga meningkat cukup tajam, mengingat capaian per pekan kedua bulan ini baru mencapai 22 emiten dengan nilai Rp26,1 triliun.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi menambahkan, salah satu upaya yang dilakukan untuk merealisasikan target tersebut adalah dengan mengembangkan variasi layanan dan peluncuran produk baru. Untuk merangsang pasar obligasi, otoritas akan meluncurkan produk derivatif berbasis surat utang negara yang disebut basket bond futures.

Adapun, untuk merangsang minat IPO, bursa juga melakukan pembinaan terhadap usaha rintisan, baik yang berasal dari sektor digital maupun dari sektor lainnya melalui papan akselerasi. "Nanti papan pengembangan akan disinkronkan dengan IDX incubator. Selain itu kami juga membuka peluang UKM untuk masuk ke papan akselerasi," kata dia.

Dia menambahkan, selain melakukan pengembangan dari segi produk, bursa juga mengembangkan infrastruktur, baik regulasi dan sistem aplikasi yang dapat mendukung pencapaian target dalam area Perusahaan Tercatat. Salah satunya adalah sistem penyampaian dokumen pencatatan secara elektronik (e-Registration), dan electronic bookbuilding.

Tag : bei, pasar modal
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top