Bursa Asia Naik Pagi Ini, Sentimen Negatif Tetap Dominan

Bursa saham Asia bergerak lebih stabil pada perdagangan pagi ini, Jumat (12/10/2018), tetapi sentimen negatif pada pasar tetap bertahan setelah bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) melemah dan ekspektasi volatilitas pasar melonjak.
Renat Sofie Andriani | 12 Oktober 2018 09:36 WIB
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia bergerak lebih stabil pada perdagangan pagi ini, Jumat (12/10/2018), tetapi sentimen negatif pada pasar tetap bertahan setelah bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) melemah dan ekspektasi volatilitas pasar melonjak.

Dilansir Reuters, indeks MSCI Asia Pacific, selain Jepang, naik 0,2%, setelah menyentuh level terendahnya dalam 1.5 tahun pada perdagangan Kamis (11/10). Di sisi lain, indeks Nikkei Jepang melemah 0,6%.

Indeks saham S&P 500 melemah 2,06% pada perdagangan Kamis ke level terendahnya dalam tiga bulan, menyusul penurunan sebesar 3,29% pada Rabu (10/10).

Kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari perang perdagangan China-AS, lonjakan imbal hasil obligasi AS pekan ini, berikut sikap hati-hati investor menjelang musim laporan keuangan, disebut sebagai alasan di balik aksi jual yang meluas kemarin.

Namun bursa berjangka AS berhasil rebound 0,6% pada awal perdagangan di Asia pagi ini, sebagian terbantukan pemberitaan bahwa Kementerian Keuangan AS tidak akan melabeli China sebagai manipulator mata uang dalam laporannya nanti.

“Pasar (saham AS) saat ini sekitar 7% lebih rendah dari level tertingginya dalam 100 hari, tetapi ini jauh dari kejadian langka secara historis,” tulis ekonom di RBC Capital Markets, seperti dikutip Reuters.

Namun, sentimen pasar tetap goyah dengan indeks Volatilitas Cboe naik ke 24,98, level penutupan tertinggi sejak 12 Februari, sehari setelah S&P 500 anjlok lebih dari 3%.

“Masih ada risiko penurunan terhadap pasar di tengah kekhawatiran perang perdagangan China-AS dapat memperlambat pertumbuhan global,” kata Masahiro Ichikawa, pakar strategi senior di Sumitomo Mitsui Asset Management.

Memang, sepanjang pekan ini bursa saham China dan AS berada di antara pasar saham dengan performa terburuk. Ini menjadi tanda bahwa kekhawatiran investor tentang perang perdagangan semakin mendalam.

Di sisi lain, emas, yang biasanya dilihat sebagai aset safe haven selama periode ketidakpastian yang tinggi, melonjak 2,5%, kenaikan harian terbesar sejak Juni 2016.

Sementara itu, imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun ke 3,146%, dari level tertinggi dalam tujuh tahun di 3,261% yang disentuh pada Selasa (9/10), di tengah kekhawatiran tentang inflasi.

Penurunan imbal hasil AS membantu mendorong dolar AS lebih rendah karena melemahkan daya tarik investasi dalam obligasi dolar.

Tag : bursa asia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top