10 Perusahaan Lokal Nyatakan Minat Jadi Sekuritas Daerah

Minat sejumlah korporasi lokal untuk menjadi perusahaan efek daerah cukup tinggi sehingga BEI optismistis perusahaan efek daerah akan cepat terbentuk setelah seluruh persiapan regulasi dan infrastruktur rampung.
Emanuel B. Caesario | 09 Oktober 2018 06:28 WIB
Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo (kiri) berbincang dengan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen di sela-sela pembukaan perdagangan saham di Jakarta, Senin (8/10/2018). Pada kesempatan tersebut diluncurkan IDX Channel New Look dan portal idxchannel.tv. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Minat sejumlah korporasi lokal untuk menjadi perusahaan efek daerah cukup tinggi sehingga BEI optismistis perusahaan efek daerah akan cepat terbentuk setelah seluruh persiapan regulasi dan infrastruktur rampung.

Inarno Djajadi, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, mengatakan bahwa tidak kurang dari 10 korporasi daerah sudah menyatakan minat untuk menjadi perusahaan efek daerah. Beberapa korporasi tersebut umumnya masih berasal dari Pulau Jawa.

Dirinya menilai, perusahaan dari daerah manapun bisa saja menjadi peserta pilot project untuk uji coba menjadi perusahaan efek daerah ini. Adapun, BEI belum menentukan siapa saja yang akan masuk dalam pilot project.

“Banyak sekali yang berminat, ada di Jatim [Jawa Timur], Jateng [Jawa Tengah], dan Yogyakarta. Jadi, banyak sekali,” katanya, Senin (8/10).

Inarno mengatakan, saat ini yang tengah menjadi prioritas BEI adalah merampungkan pembentukan dan persiapan infrastruktur anak perusahaan BEI di bidang teknologi informasi. Perusahaan ini akan menjadi pendukung bagi back office system dari perusahaan efek daerah nantinya.

Dia menargetkan, pendirian perusahaan teknologi informasi itu bisa dirampungkan tahun ini. Bila demikian, paling cepat pembentukan perusahaan efek daerah sudah bisa terjadi pada awal tahun depan.

Menurutnya, belum adanya perusahaan teknologi informasi yang mendukung sistem back office perusahaan efek daerah inilah yang menjadi kendala utama belum beroperasinya perusahaan efek daerah. Begitu perusahaan teknologi informasi ini siap, maka tidak ada masalah lagi.

Hadirnya perusahaan efek daerah diharapkan bisa menjaring lebih banyak investor ritel dari daerah-daerah yang selama ini sulit mengakses pasar modal. Selain itu, perusahaan efek derah ini juga bisa menjaring perusahaan-perusahaan lokal untuk menjajaki peluang IPO atau pemda setempat untuk menerbitkan obligasi daerah.

Hoesen, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, mengatakan bahwa OJK telah menyiapkan aturan tentang perusahaan efek daerah tersebut yang tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di bidang pasar modal.

Berdasarkan survei OJK pada 2016, indeks literasi keuangan dan inklusi keuangan di sektor pasar modal masing-masing hanya 4,4% dan 1,25%. Rendahnya literasi dan inklusi keuangan pasar modal tercermin pula dari rendahnya data SID investor individu yang masih kurang dari 1 juta.

Dia optimistis tingkat literasi dan inklusi keuangan di kalangan masyarakat daerah akan semakin meningkat di masa mendatang, tidak saja karena hadirnya perusahaan efek daerah, tetapi juga karena perkembangan teknologi digital.

Selain mendekatkan sekuritas dengan masyarakat di daerah, OJK juga merelaksasi aturan tentang pembukaan rekening efek. Relaksasi tersebut termasuk mengadopsi sistem digital signature sehingga semua proses pembukaan rekening tidak perlu lagi menggunakan tanda tangan basah.

 

Tag : sekuritas
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top