Green Komodo Bond : Peluang Baru Korporasi Indonesia

Emisi Green Komodo Bond oleh International Finance Corporation (IFC), anggota dari World Bank Group, yang berhasil menarik minat kuat dari investor global mencapai Rp2 triliun, atau setara US$134 juta dapat membuka jalan emiten lainnya di Indonesia untuk menjajaki instrumen serupa.
Emanuel B. Caesario | 08 Oktober 2018 20:55 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA—Emisi Green Komodo Bond oleh International Finance Corporation (IFC), anggota dari World Bank Group, yang berhasil menarik minat kuat dari investor global mencapai Rp2 triliun, atau setara US$134 juta dapat membuka jalan emiten lainnya di Indonesia untuk menjajaki instrumen serupa.

Instrumen ini mendapat peringkat AAA (stable) dari S&P dan Aaa (stable) dari Moody’s. Instrumen ini diterbikan IFC untuk kliennya yakni Bank OCBC NISP untuk mendanai proyek-proyek berwawasan lingkungan di Indonesia.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa momen menjadi tuan rumah rapat tahunan IMF-World Bank memang selayaknya digunakan Indonesia untuk mempromosikan potensi investasi di Indonesia, termasuk Komodo Green Bond.

Menurutnya, wacana penerbitan instrumen green bond di pasar global dalam denominasi rupiah atau Komodo Bond sudah lama diwacanakan. Rapat tahunan IMF-World Bank ini menjadi momentum yang tepat untuk memperkenalkan instrumen tersebut.

Ramdhan mengatakan, nilai emisi Komodo Green Bond IFC ini relatif tidak terlalu besar, hanya Rp2 triliun. Menurutnya, nilainya bisa saja lebih besar, tetapi sebagai penerbit, Indonesia tentu perlu lebih hati-hati pada emisi perdana ini.

Lagi pula, saat ini nilai tukar rupiah sedang cukup volatile dan cenderung melemah, sementara resiko kurs ini dibebankan pada investor global yang membeli instrumen ini. Investor tentu akan sangat berhati-hati untuk menyerap dalam jumlah yang terlalu besar.

Country rating kita sekarang sudah masuk investment grade sehingga otomatis emiten kita, terutama BUMN yang rating-nya bagus-bagus memiliki peluang besar untuk menggunakan instrumen serupa ini,” katanya, Senin (8/10/2018).

Menurutnya, di masa mendatang emiten-emiten korporasi lainnya dari Indonesia bisa menerbitkan instrumen ini dalam nominal yang lebih besar untuk pembiayaan proyek infrastruktur yang ramah lingkungan.

Apalagi, instrumen ini berhasil diterbitkan dengan tingkat bunga yang relatif rendah, yakni 8% dengan tenor 5 tahun. Bandingkan  dengan emisi obligasi korporasi dalam negeri dengan tenor dan peringkat yang sama, bisa mencapai 9,5% - 10%.

“Kalau serapan di luar bagus, ini bisa dicontoh yang lain karena pasarnya akan menjadi lebih luas dan menguntungkan bagi emiten kita. Saya kira Rp2 triliun ini untuk tes market dulu, setelahnya korporasi kita yang lain bisa terbitkan lebih besar,” katanya.

Tag : Obligasi, green bond, komodo bond
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top