Kenaikan Imbal Hasil AS Masih Bayangi Kenaikan Harga Emas

Harga emas menguat karena investor masih was-was setelah imbal hasil treasuri Amerika Serikat menyentuh puncak selama beberapa tahun dan adanya ekspektasi data pekerja AS yang menguat sehingga bisa memacu laju pengetatan kebijakan moneter AS.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 07 Oktober 2018  |  20:24 WIB
Kenaikan Imbal Hasil AS Masih Bayangi Kenaikan Harga Emas
Harga emas berjangka naik di Divisi COMEX New York Mercantile Exchange. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas menguat karena investor masih was-was setelah imbal hasil treasuri Amerika Serikat menyentuh puncak selama beberapa tahun dan adanya ekspektasi data pekerja AS yang menguat sehingga bisa memacu laju pengetatan kebijakan moneter AS.

Investor diperkirakan masih mengawasi laporan upah Pemerintah AS pada September yang dirilis pada Jumat (5/10) malam waktu AS dan melihat adanya pertumbuhan tingkat upah.

Survei Reuters kepada sejumlah ekonom menunjukkan rata-rata ekspektasi kenaikan tenaga kerja AS mencapai 185.000 pada September setelah sempat melambung ke 210.000 pada Agustus.

Harga emas spot menghijau pada penutupan perdagangan Jumat (5/10) dengan kenaikan sebesar 3,72 poin atau 0,31% menjadi US$1.203,63 per troy ounce dan mencatatkan pelemahan harga hingga 7,61% secara year-to-date (ytd).

Adapun, harga emas Comex menguat 4 poin atau 0,33% menjadu US$1.205,60 per troy ounce dan membukukan penurunan harga hingga 8,26% sepanjang 2018.

Analis Riset ForexTime (FXTM) Lukman Otunuga mengatakan bahwa data nonfarm payroll (NFP) berbarengan dengan adanya tanda kenaikan upah bisa memacu ekspektasi mengenai kenaikan pengetatan kebijakan The Fed hingga melebihi proyeksi.

“Kabar itu tentunya buruk untuk emas yang tak berimbal hasil sehingga akan semakin kehilangan daya tarik di tengah lingkup kenaikan suku bunga,” ujarnya dilansir dari Reuters, Minggu (7/10/2018).

Federal Reserve AS pada pekan lalu mengatakan berencana menaikkan suku bunga hingga empat kali lagi sampai dengan akhir 2019 dan dilanjutkan hingga 2020, melihat pertumbuhan ekonomi AS yang sehat dan pasar tenaga kerja AS yang kuat.

“Kenaikan suku bunga acuan AS selanjutnya diperkirakan akan terjadi sebelum akhir tahun ini mendorong penguatan dolar AS sepanjang pekan lalu, yang membuat harga dolar AS semakin melorot,” kata Ronan Manly, analis logam mulia BullionStar.

Suku bunga yang terus naik biasanya dapat mendorong dolar AS terus menguat dan membantu imbal hasil obligasinya naik. Hal itu semakin menekan harga emas dengan menaikkan kemungkinan biaya untuk melakukan penyimpanan emas sebagai aset.

Indeks dolar AS masih dalam posisi yang cukup kuat meski mengalami pelemahan 0,12% menjadi 95,62 di hadapan sejumlah mata uang lawannya, karena investor masih meninjau dampak dari pergiliran obligasi pemerintah AS selama dua hari yang membuah imbal hasil Treasuri AS ke titik tertinggi selama tujuh tahun.

“Kami belum pernah melihat penurunan tajam pada emas seperti yang pernah terjadi dulu, tapi tentu masih ada tekanan untuk turun lagi dari kenaikan imbal hasil obligasi AS,” ungkap ekonom National Bank Australia John Sharma.

Menurut Analis Reuters Wang Tao, proyeksi harga emas dalam waktu dekat akan berada di kisaran US$1.214 – US$1.222 per troy ounce kalau harganya berhasil menembus US$1.207 per troy ounce.

Sementara itu, analis PT Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra memprediksikan bahwa emas berpeluang menguat dengan resistan terdekat berada di kisaran US$1.205 per troy ounce dan penembusan di atas area tersebut akan membawa harga emas lanjut naik ke area US$1.208 – US$1.212 per troy ounce.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Emas Hari Ini

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top