Bukukan Kontrak Jangka Panjang, Prodia (PRDA) Tidak Terpengaruh Depresiasi Rupiah

Emiten jasa pemeriksaan laboratorium kesehatan PT Prodia Widyahusada Tbk. menyebut pelamahan nilai tukar rupiah tidak akan berdampak signifikan pada kinerja perseroan. Pasalnya, Prodia telah membukukan kontrak jangka panjang dari para pemasok bahan baku.
Dara Aziliya | 26 September 2018 17:16 WIB
Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk (Prodia) Dewi Muliaty (keempat kanan) bersama General Manager Divisi Enterprise Service Segment Healthcare & Welfare Service Telkom Umar Dani (dari kanan), Direktur Marketing & Sales Infomedia Andang Ashari, Direktur Prodia Andri Hidayat, dan Direktur Indriyanti R Sukmawati melakukan prosesi peluncuran Kontak Prodia di Bandung, Jawa Barat, Rabu (26/9/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA -- Emiten jasa pemeriksaan laboratorium kesehatan PT Prodia Widyahusada Tbk. menyebut pelamahan nilai tukar rupiah tidak akan berdampak signifikan pada kinerja perseroan. Pasalnya, Prodia telah membukukan kontrak jangka panjang dari para pemasok bahan baku.

Direktur Utama Prodia Widyahusada Dewi Muliyati menyampaikan menyampaikan pelemahan nilai tukar rupiah sangat memengaruhi kinerja perseroan mengingat lebih dari 90% bahan baku masih diimpor dari beberapa negara. Namun, dia memprediksi beban keuangan pada 2018 tidak akan naik signifikan.

"Nilai tukar ini sangat berdampak, tapi kami sudah mengantisipasi sejak lama. Setiap kali agreement pembeliaan dengan banyak vendor, kami tetapkan batas nilai dolar, yen, maupun euro. Sampai saat ini nilai tukar masih dalam rentang kami. Semoga nilai tukar tahun depan bisa lebih stabil, " jelas Dewi di Bandung, Rabu (26/9/2018).

Dewi menjelaskan, pada 2008 perseroan sempat jebol karena nilai tukar rupiah yang melampaui batas atas agreement pembelian perseroan. Namun, Dewi menyampaikan perseroan dapat melakukan negosiasi dengan para pemasok sehingga Prodia tetap dapat mendapatkan harga yang sesuai.

"Mereka [perusahaan pemasok] mempertimbangkan kami sebagai big customer sehingga mereka tetap support. Itu salah satu benefit Prodia sebagai market leader," jelas Dewi.

Adapun, Prodia tidak memiliki utang atau pinjaman dalam mata uang dolar sehingga kondisi keuangan perseroan diyakini akan tetap stabil hingga akhir tahun ini.

Pada tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp300 miliar-Rp350 miliar yang digunakan sebagian besarnya untuk pengembangan IT. Hingga September 2018, perseroan memprediksi serapan capex akan mencapai Rp200 miliar.

Tag : kinerja emiten, prodia
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top