Reksa Dana Saham Kian Terpuruk

Kinerja indeks reksa dana saham sepanjang tahun berjalan per 7 September 2018 cukup mengecewakan. Bahkan, lebih buruk dibandingkan benchmark yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Tegar Arief | 12 September 2018 10:54 WIB
Karyawan berjalan melintasi layar informasi Indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/9/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Kinerja indeks reksa dana saham sepanjang tahun berjalan per 7 September 2018 cukup mengecewakan. Bahkan, lebih buruk dibandingkan benchmark yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja IHSG per 7 September 2018 tercatat  turun 7,93%. Sementara itu, indeks reksa dana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index menyusut 8,28%.

Sepanjang pekan lalu, kinerja indeks reksa dana saham menjadi yang terburuk setelah turun 3,23%. Adapun indeks reksa dana campuran yang tercermin dalam Infovesta Balanced Fund Index turun 2,5%.

Sementara itu, indeks reksa dana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta Fixed Income Fund Index tercatat turun 1,67%, dan reksa dana pasar uang yang tercermin dalam Infovesta Money Market Fund Index mencatatkan kenaikan 0,03%.

Terpuruknya kinerja reksa dana saham dinilai karena strategi yang diterapkan oleh fund manager berbanding terbalik dengan kondisi pasar sehingga gagal mengikuti pertumbuhan IHSG.

"Ini banyak fund manager yang pemilihan sahamnya tidak sejalan dengan indeks. Memang ini strategi masing-masing. Tapi kasusnya Agustus 2018, ketika suku bunga naik banyak yang lari dari saham," kata Head of Investment PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana kepada Bisnis, Rabu (12/9/2018).

Dalam beberapa bulan terakhir, fund manager memang lebih memaksimalkan penempatan investasi pada saham second liner. Sehingga, jika saham-saham berkapitalisasi pasar besar menanjak, reksa dana tidak mendapatkan berkahnya.

Namun, dia tetap optimistis kinerja indeks akan kembali terangkat pada akhir tahun. Sejauh ini, Infovesta Utama masih memnpertahankan prediksi IHSG di pengujung tahun di level 6.400-6.500.

"Kinerja emiten sebenarnya baik. Yang menjadi masalah karena isu eksternal. Kuncinya, kalau tekanan dolar AS mereda investor bisa fokus pada pasar dalam negeri dan IHSG kembali terangkat," lanjut Wawan.

Senada, Head Investment Avrist Asset Management Farash Farich meyakini penurunan kinerja reksa dana saham sepanjang tahun berjalan disebabkan oleh moncernya pergerakan saham big cap yang tidak diimbangi oleh saham-saham lapis kedua.

Dia menjelaskan setidaknya secara month-on-month (mom) kinerja indeks LQ45 pada bulan lalu tercatat tumbuh 1,93%. Tak jauh beda, kinerja indeks dalam IDX30 juga mencatatkan angka positif yakni naik 2,05%.

Kontras, kinerja indeks saham mid cap atau kapitalisasi pasar menengah yang berada di MSCI hanya naik 0,59%. Sementara itu, kinerja saham small cap di MSCI lebih tertekan yakni merosot 4,28%.

"Kinerja negatif saham small cap ini yang menyebabkan kinerja reksa dana saham negatif. Tapi reksa dana indeks atau yang menggunakan strategi enhanced indexing berkinerja baik," terang Farash.

Menurutnya, pemulihan pasar saham akan terjadi apabila dana asing kembali masuk ke pasar modal. Masuknya dana asing akan terwujud jika upaya pemerintah dalam menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berhasil.

Kinerja indeks reksa dana dan benchmark year-to-date (ytd) 7 September 2018:

Keterangan%
IHSG(7,93)
Reksa dana saham(8,28)
50% IHSG + 50% IGBI (6,01)
Reksa dana campuran(5,6)
50% IGBI + 50% ICBI  (0,26)
Reksa dana pendapatan tetap(5,21)
LPS3,28
Reksa dana pasar uang2,7

Sumber: Infovesta Utama

Tag : reksa dana
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top