Tensi Global Angkat Safe Haven, Dolar AS Menguat

Tekanan seputar perdagangan global memacu daya tarik aset safe haven sekaligus mengangkat pergerakan dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (4/9/2018).
Renat Sofie Andriani | 04 September 2018 11:09 WIB
Uang dolar AS. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Tekanan seputar perdagangan global memacu daya tarik aset safe haven sekaligus mengangkat pergerakan dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (4/9/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama di dunia menguat 0,12% atau 0,110 poin ke level 95,250 pada pukul 10.25 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan kenaikan tipis 0,006 poin atau 0,01% di level 95,146, setelah pada perdagangan Senin (3/9) berakhir flat di posisi 95,140.

Dilansir dari Reuters, kekhawatiran atas dampak kebijakan proteksionis ‘America First’ yang diusung Presiden Donald Trump terhadap pertumbuhan global telah menjaga keresahan pelaku pasar hampir sepanjang tahun ini.

Pada Sabtu (1/9), Trump menyampaikan pernyataan yang mengabaikan pentingnya keberadaan Kanada dalam Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). Trump juga memperingatkan Kongres AS untuk tidak ikut campur dalam diskusi perombakan NAFTA atau dia akan mengakhiri perjanjian perdagangan trilateral.

“Tampaknya dolar AS, dibantu kenaikan suku bunga, sebagai mata uang safe haven, mendapat dukungan dari keresahan di seluruh dunia,” kata Masafumi Yamamoto, kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, seperti dikutip Reuters.

Status dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia cenderung menarik tawaran untuk safe haven di tengah kondisi gejolak pasar dan ketegangan politik.

Penguatan dolar juga ditopang dari pelemahan mata uang euro pascarilis data manufaktur zona Eropa.

Data yang dirilis pada Senin (3/9) menunjukkan perlambatan pertumbuhan manufaktur zona Eropa ke kisaran level terendah dua tahun pada Agustus, seiring dengan menyusutnya optimisme akibat ancaman perang perdagangan global yang masih bertahan.

Survei serupa di Asia menunjukkan negara-negara pengekspor utama di kawasan itu mengalami tekanan dari meningkatnya friksi perdagangan global.

Pada saat yang sama, investor tetap bersikap hati-hati atas pergolakan dalam emerging markets. Sejumlah mata uang termasuk peso Argentina, lira Turki, rand Afrika Selatan, real Brasil, rupiah, dan rupee India telah mencatat pelemahan dalam beberapa pekan terakhir.

“Jika keresahan emerging markets yang meluas menyebabkan penurunan prospek ekonomi secara global, ini sesuatu yang negatif untuk negara-negara pengekspor sumber daya dan mata uangnya, seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru, serta menjadi faktor pendukung bagi dolar AS dan yen [sebagai safe haven],” tambah Yamamoto.

Posisi indeks dolar AS                                                                        

4/9/2018

(Pk. 10.25 WIB)

95,250

(+0,12%)

3/9/2018

95,140

(0%)

31/8/2018

95,140

(+0,44%)

30/8/2018

94,723

(+0,13%)

29/8/2018

94,600

(-0,13%)

Sumber: Bloomberg

Tag : dolar as
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top