BATA, Emiten Sepatu Indonesia Asal Ceko

PT Sepatu Bata Tbk. adalah bagian dari Bata Shoe Organization (BSO). Emiten berkode BATA itu pun tidak memiliki hubungan dengan wilayah Kalibata, hanya saja daerah itu memang sempat menjadi pabrik produksi sepatu asal Ceko tersebut.
Surya Rianto | 03 September 2018 19:33 WIB
Emiten Sepatu Indonesia asal Ceko. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Sepatu Bata Tbk. sering dianggap produk asli Indonesia. Padahal, emiten berkode BATA itu sepenuhnya perusahaan asing.

Sepatu Bata didirikan sejak era kolonial Belanda yakni, 15 Oktober 1931. Kala itu, nama perusahaan sepatu Bata adalah NV Nederlancsch Indische Schoenhandel Maatschappij Bata.

Perseroan adalah anggota Bata Shoe Organization (BSO) di Swiss. BSO adalah produsen sepatu terbesar dunia. Bata international itu didirikan oleh Thomas Bata pada 1894 di Ceko.

Dari sisi pemegang saham, Sepatu Bata dimiliki oleh Bafin (Nederland) B.V selaku entitas induk perseroan, sedangkan Compas Ltd., Bermuda, adalah entitas induk terakhirnya.

Sampai kuartal I/2018, pemegang saham Bata sebanyak 82% dimiliki oleh Bafin, 5,1% dimiliki oleh BP2S Singapore, dan 12,9% dimiliki publik. 

Awalnya, perseroan yang didirikan pada era kolonial Belanda itu memiliki lini bisnis sebagai importir sepatu.

Pada 1940, Bata memutuskan untuk produksi di pabrik Kalibata, Jakarta Selatan. Perseroan pun melakukan ekspansi lewat pembangunan pabrik di Purwakarta pada 1994.

Kemudian, Bata memutuskan untuk menjual pabrik Kalibata pada 2008. Emiten pembuat sepatu itu pun hanya melakukan produksi di pabrik Purwakarta.

Sampai akhir 2017, perseroan memiliki kapasitas produksi sebesar 4 juta pasang. Volume produksi Bata itu turun 15% dibandingkan dengan 2016 yang memiliki kapasitas produksi 4,6 juta pasang.

Pergerakan Saham Bata

Sementara itu, Bata memutuskan untuk go public pada 24 Maret 1982 di Bursa Efek Jakarta (BEJ), sekarang Bursa Efek Indonesia (BEI). Kala itu, perseroan melepas 1,2 juta sahamnya kepada publik dengan harga penawaran Rp1.275 per saham.

Harga saham Bata terus menanjak pasca melantai di BEJ. Pada 1991, harga saham Bata telah naik sebesar 378,43% menjadi Rp6.100 per saham dibandingkan dengan harga penawaran pertama kali di BEJ.

Ketika krisis moneter pada 1997-1999, harga saham Bata sempat anjlok 74,18% menjadi Rp1.575 per saham dibandingkan dengan 1991. Meskipun begitu, harga saham Bata mampu bangkit lagi ketika memasuki medio 2000-an.

Pada 2000, dari data Bloomberg menunjukkan harga saham Bata melonjak 868,25% menjadi Rp15.250 dibandingkan dengan 1999.

Harga saham Bata pun mencapai puncaknya pada periode 2013 setelah menembus level Rp85.000 per saham. Nilai itu sudah naik 6.566,66% dibandingkan dengan harga penawaran saham perdana pada 1982 silam.

Namun, Bata memutuskan melakukan pemecahan nilai saham atau stock split sebesar 1:100. Perseroan mendapatkan persetujuan pemegang saham pada Juli 2013 dan merealisasikan aksi korporasi itu pada September 2013.

Pasca stock split, harga saham Bata berada di kisaran Rp1.060 per saham. Perseroan sempat mencatat kenaikan harga  ke level Rp1.650 per saham, tetapi sampai saat ini tren saham Bata berada di bawah Rp1.000 per saham.

Sampai penutupan perdagangan Senin (3/9), harga saham Bata berada pada kisaran Rp605 per saham. Secara harian, harga saham Bata naik sebesar 3,42%.

Dari sisi kinerja, Bata masih mencatatkan hasil positif sampai saat ini.

Pada laporan keuangan kuartal I/2018, perseroan mencatat kenaikan laba bersih sebesar 11,91% menjadi Rp2,63 miliar dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Perseroan masih mencatat persentase kenaikan laba bersih dua digit, tetapi dari sisi pendapatan bersih mengalami koreksi. Bata mencatat pendapatan bersihnya turun 1,7% menjadi Rp196,59 miliar.

Beban Gaji, Tunjangan, dan Bonus Turun

Pada kuartal pertama tahun ini, perseroan mencatat penurunan beban gaji, tunjangan, dan bonus tenaga kerja sebesar 0,46% menjadi Rp8,62 miliar dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu senilai Rp8,66 miliar.

Selain itu, gaji direksi Bata juga turun sebesar 22,81% menjadi Rp2,3 miliar dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu senilai Rp2,98 miliar.

Tren penurunan beban gaji, tunjangan, dan bonus perseroan juga mengalami penurunan pada 2017 sebesar 2,29% menjadi Rp34,46 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pada 2016, beban gaji, tunjangan, dan bonus perseroan justru naik sebesar 14,73% menjadi Rp35,27 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Di sisi lain, gaji direksi terus mengalami penurunan sejak 2016. Rata-rata penurunan gaji direksi sebesar 16% selama dua tahun terakhir.

Pada 2017, gaji direksi Bata turun sebesar 16,9% menjadi Rp9,55 miliar dibandingkan dengan 2016 yang sebesar Rp11,5 miliar. Sebelumnya, pada 2016, beban gaji direksi perseroan juga turun sekitar 16,6%.

Meskipun perseroan menurunkan beban gaji direksi, tetapi Bata tetap konsisten membagi dividen kepada pemegang saham setiap tahunnya.

Bisnis.com mencatat sejak 2015 sampai 2018, perseroan terus membagikan dividen.

Pada tahun ini, perseroan membagikan dividen total senilai Rp27,61 miliar dari laporan keuangan 2017 yang mencatat laba Rp974,53 miliar. Setahun sebelumnya, perseroan membagikan dividen senilai Rp32,07 miliar dari laba bersih 2016 senilai Rp999,8 miliar.

Itulah sedikit kisah dan kinerja harga saham serta keuangan dari emiten Bata yang kerap disangka perusahaan asli Indonesia.

Sumber : Lapkeu Perusahaan, Bloomberg

Tag : emiten, sepatu
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top