Sepekan, Aksi Beli Saham Tembus Rp1 Triliun

Rilis laporan keuangan emiten-emiten membuat pasar modal Indonesia kembali net buy sekitar Rp1 triliun.
Novita Sari Simamora | 31 Agustus 2018 18:03 WIB
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -Rilis laporan keuangan emiten-emiten membuat pasar modal Indonesia kembali net buy sekitar Rp1 triliun.

Kepala Riset MNC Sekuritas, Edwin Sebayang mengatakan investor pasar modal memanfaatkan pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) untuk melakukan aksi beli. Meskipun ada aksi beli sepekan terakhir hingga Rp1,02 triliun, kata Edwin, pada penutupan perdagangan harian akhir pekan ini malah dicatatkan dengan adanya net sell senilai Rp434 miliar.

"Aksi net buy itu merupakan momentum yang diambil oleh pelaku pasar. Aksi beli ini karena adanya rilis laporan keuangan," katanya kepada Bisnis, Jumat (31/8/2018).

Pada penutupan perdagangan Jumat (31/8/2018), IHSG kembali memerah, turun 0,01% atau setara 0,5 poin menuju level 6.018,46. Sepanjang pekan ini, IHSG juga sempat menguat hingga 0,83%.

Pada pekan depan, Edwin memperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran 5.950-6070. Setelah rilis laporan keuangan berakhir, maka kinerja saham emiten akan dipengaruhi aksi korporasi dan faktor eksternal seperti krisis di Turki menimbulkan kekhawatiran bagi negara berkembang.

Faktor eksternal lain yakni rencana The Fed untuk menaikkan Fed Fund Rate (FFR). Dia mengungkapkan rencana tersebut akan membuat nilai tukar rupiah semakin lemah dan emiten yang memiliki bahan baku impor bakalan terpukul.

Edwin memperkirakan hingga tahun depan, kinerja pasar modal masih dalam tren melemah. Untuk akhir tahun ini, dia memproyeksikan IHSG bakal bergerak pada kisaran 5.800-6.200.

Menurutnya, IHSG masih sangat memungkinkan untuk bergerak menuju level 6.200 sebab, fundamental ekonomi Indonesia masih sangat kuat. Namun, saat ini, pelaku pasar masih menanti langkah yang dilakukan otoritas moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

 

 

Tag : IHSG
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top