Analisis Fundamental Adaro (ADRO): Harga Saham Potensial Naik 60%

Berikut ini analisis perkembangan bisnis Adaro Energy sampai dengan kuartal II/2018, serta prospek bisnisnya pada tahun ini yang diperkirakan akan mendukung terhadap peningkatan harga saham ADRO.
Fajar Sidik | 24 Juli 2018 09:27 WIB
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Berikut ini analisis perkembangan bisnis Adaro Energy sampai dengan kuartal II/2018, serta prospek bisnisnya pada tahun ini yang diperkirakan akan mendukung terhadap peningkatan harga saham ADRO. 

Andy Wibowo Gunawan, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia menjelaskan untuk kuartal II/2018, Adaro Energy (ADRO) diperkirakan membukukan laba bersih sebesar US$84 juta (+14,0% QoQ) didukung oleh produksi batu bara yang lebih tinggi pada kuartal tersebut.

"Kami percaya produksi batu bara akan terus meningkat pada kuartal III/2018, sehingga estimasi laba setahun penuh kami tidak berubah. Kami mengulangi kembali rekomendasi Buy kami untuk ADRO dan mempertahankan target harga sebesar Rp2.880, yang mengimplikasikan potensi naik 60%," jelasnya dalam riset yang diterima Bisnis, Selasa pagi (24/7).

Saat ini, ADRO diperdagangkan dengan proyeksi P/E (2018F-2019F) masing-masing sebesar 8,2x dan 6,4x.

Mengingat rata-rata jumlah hari hujan di Kalimantan yang lebih rendah pada kuartal II/2018 pada 15,0 hari, diperkirakan produksi batu bara ADRO akan meningkat menjadi 12,26 juta ton (+12,0% QoQ). Pada kuartal I/2018, produksi batu bara ADRO turun menjadi 10,95 juta ton (-11,9% QoQ) karena hujan deras di atas rata-rata di sekitar lokasi tambang ADRO.

"Kami optimistis volume penjualan batu bara ADRO juga akan meningkat menjadi 12,25 juta ton (+12,1% QoQ) mempertimbangkan perkiraan produksi batu bara kuartal II/2018 yang lebih tinggi."

Selain itu, ASP batu bara kuartal II/2018 ADRO diperkirakan berkembang menjadi US$65,5/ton didukung oleh harga batu bara global pada kuartal II/2018 yang lebih tinggi. Dengan demikian, laba bersih kuartal II/2018 ADRO akan meningkat menjadi US$84 juta (+14,0% QoQ).

Dalam jangka panjang, terlihat bahwa keunggulan kompetitif terkuat dari ADRO adalah nilai kalori batu baranya sesuai dengan program 35GW. Dalam program 35GW, pembangkit listrik termal adalah penyumbang terbesar untuk kebutuhan listrik Indonesia. "Perkiraan penghasilan kami tidak berubah, dan mempertahankan target harga di Rp2.880."

Pada awal perdagangan Selasa (24/7) saham ADRO melaju pada level 1.815 meningkat 15 poin atau 0,83%. Dalam 52 pekan terakhir, harga saham ADRO sempat menyentuh level tertinggi pada harga 2.650 dan posisi terendah 52 pekan 1.575.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
adaro

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top