Rupiah Menguat, IHSG Lebih Solid Pada Akhir Sesi I

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menetap di zona hijau pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (25/7/2018), setelah sepanjang hari bergerak fluktuatif.
Renat Sofie Andriani | 25 Juli 2018 13:19 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menetap di zona hijau pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (25/7/2018), setelah sepanjang hari bergerak fluktuatif.

IHSG naik tipis 0,08% atau 4,77 poin ke level 5.936,61 pada akhir sesi I. Dibuka dengan kenaikan 0,16% atau 9,29 poin di level 5.941,13, indeks tergelincir ke zona merah pada awal perdagangan dan baru kembali bergerak positif menjelang akhir sesi I.

Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.923,20 – 5.947,50. Sebanyak 185 saham menguat, 144 saham melemah, dan 268 saham stagnan dari 597 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Lima dari sembilan indeks sektoral IHSG menetap di zona hijau dengan support utama sektor industri dasar (+1,43%) dan tambang (+1,24%). Empat sektor lainnya menetap di zona merah, dipimpin sektor infrastruktur yang melemah 1,31%.

Bersama IHSG, indeks saham lain di Asia Tenggara juga menguat siang ini, dengan indeks FTSE Malay KLCI (+0,12%), FTSE Straits Times Singapura (+0,99%), indeks SE Thailand (+1,09%), dan indeks PSEi Filipina (+1,74%).

Di kawasan Asia lainnya, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing naik 0,36% dan 0,40%, indeks Kospi Korea Selatan turun 0,38%, indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,67% dan indeks Shanghai Composite China naik 0,08%.

Secara keseluruhan, bursa saham Asia naik moderat pada perdagangan hari ini, didukung optimisme atas laporan keuangan korporasi di Amerika Serikat serta harapan terhadap stimulus fiskal oleh pemerintah China yang dapat mendorong pertumbuhan.

Namun, tensi perdagangan tetap menjadi perhatian pelaku pasar menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker pada hari ini waktu setempat.

Pada perdagangan Selasa (24/7), indeks Standard & Poor’s 500 ditutup di level tertinggi sejak 1 Februari menyusul lonjakan saham Alphabet Inc yang menopang ekspektasi musim pelaporan keuangan yang kuat.

“Penguatan bursa saham AS serta rencana stimulus China memberikan dukungan bagi ekuitas. Laporan keuangan perusahaan akan terus dirilis dan ini akan menjadi titik fokus utama bagi pasar, yang juga harus mengawasi perkembangan isu perdagangan,” kata Soichiro Monji, ekonom senior di Daiwa SB Investments, dikutip Bloomberg.

Sentimen kebijakan China juga mendukung penguatan mata uang Garuda hari ini. Rupiah menguat saat rencana stimulus China mendorong permintaan domestik dan jeda pada reli dolar AS mendorong aset berimbal hasil lebih tinggi.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah memperpanjang reboundnya hari ini dan terpantau menguat 44 poin atau 0,30% ke level Rp14.501 per dolar AS pada pukul 12.52 WIB, setelah berakhir melemah 63 poin di posisi 14.545 pada perdagangan Selasa (24/7).

Menurut tim analis Valbury Sekuritas, berlanjutnya penguatan pasar Asia serta stabilitas rupiah dapat menjadi sentimen positif terhadap peluang penguatan IHGS hari ini.

Tag : IHSG
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top