Kekhawatiran Pasokan Laut Utara Inggris Kerek Harga Minyak

Harga minyak terkerek tipis atas adanya kekhawatiran terhadap pasokan setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memburuk. Selain itu, sejumlah pekerja lepas pantai di tiga platform minyak dan gas Laut Utara Inggris melakukan mogok kerja selama 24 jam.
Mutiara Nabila | 24 Juli 2018 00:11 WIB
Kilang minyak. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak terkerek tipis atas adanya kekhawatiran terhadap pasokan setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memburuk. Selain itu, sejumlah pekerja lepas pantai di tiga platform minyak dan gas Laut Utara Inggris melakukan mogok kerja selama 24 jam.

Pimpinan Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu lalu (21/7) memberikan dukungan pada Presiden Iran Hassan Rouhani yang akan menghentikan pengiriman minyak dari Gulf apabila ekspor minyaknya dihentikan AS.

Pimpinan Iran itu memberikan respons pada ancaman sanksi AS setelah Presiden AS Donald Trump pada Mei menarik diri dari kesepakatan multinasional untuk berdagang dengan Teheran sebagai imbalan karena telah berkomitmen untuk tidak mengembangkan persenjataan nuklirnya.

Pemerintah Trump kemudian meluncurkan pernyataan perlawanan dan komunikasi daring (dalam jaringan) yang bertujuan menimbulkan kekacauan dan membantu mendesak Iran untuk mengakhiri program nuklirnya beserta pada pendukung kelompok militannya.

Pada perdagangan Senin (23/7), harga minyak Brent Futures terangkat 0,59 poin atau 0,81% menjadi US$73,66 per barel dan naik 10,15% secara year-to-date (ytd). Pada sesi yang sama, harga minyak Brent sempat menyentuh US$74,26 per barel.

Adapun, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terkerek tipis 0,27 poin atau 0,47% menjadi US$69,53 per barel dan naik 13,42% selama tahun berjalan.

“Pasokan berpotensi dari Gulf kini berada dalam risiko, yang memicu tren kenaikan harga,” ujar Tamas Varga, analis London Brokerage PVM Oil Associates, dikutip dari Reuters, Senin (23/7/2018).

Kenaikan tersebut juga dipicu oleh kabar mogoknya 40 pekerja rig selama 24 jam di tiga platform minyak dan gas di Laut Utara Inggris. Gangguan tersebut membuat aliran gas ke pantai tertahan, tetapi persediaan minyak yang ada dipastikan dapat menyeimbangkan apabila ada gangguan pasokan minyak.

Kekhawatiran akan keterbatasan pasokan menambah kekhawatiran yang sudah ada sebelumnya dari perang kenaikan tensi perdagangan antara AS dengan para rekan dagangnya yang diperkirakan bisa menghambat pertumbuhan ekonomi global dan menurunkan jumlah permintaan.

Sejumlah menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari negara-negara anggota Group-of 20 (G-20) yang telah mengakhiri pertemuan di Buenos Aires pada akhir pekan lalu berencana akan melakukan pembicaraan lebih lanjut untuk menghindarkan pertumbuhan global dari tensi perdagangan dan geopolitik.

“Risiko kerugian dalam jangka pendek dan menengah terus bertambah,” ujar sejumlah menteri keuangan dalam pertemuan G-20 tersebut.

Diskusi tersebut dilaksanakan di tengah peningkatan retorika dalam perang dagan antara AS dan China, kedua kekuatan ekonomi dunia, yang saling menerapkan tarif pada masing-masing barang konsumsi senilai US$34 miliar.

Pada Jumat (20/7), Trump mengancam akan kembali menjatuhkan tarif pada ekspor China ke AS senilai US$500 miliar kecuali jika Beijing mau menyepakati perubahan besar dalam transfer sektor teknologi, subsidi industri, dan kebijakan kerja sama.

Pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak berkaitan erat karena pertumbuhan ekonomi akan mendorong konsumsi bahan bakar untuk perdagangan dan perjalanan, dan juga untuk bahan bakar kendaraan.

 

Sumber : Reuters

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top