Harga Minyak Dikhawatirkan Bisa Melonjak ke Level US$150 Per Barel

Para investor minyak kemungkinan menyesal telah mendorong perusahaan untuk melakukan aksi beli dibandingkan berinvestasi untuk pertumbuhan harga minyak di masa mendatang, karena kelangkaan eksplorasi minyak telah memicu kemungkinan adanya lonjakan harga minyak secara tak terduga.
Mutiara Nabila | 07 Juli 2018 20:13 WIB
Ilustrasi kilang minyak. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Para investor minyak kemungkinan menyesal telah mendorong perusahaan untuk melakukan aksi beli dibandingkan berinvestasi untuk pertumbuhan harga minyak di masa mendatang, karena kelangkaan eksplorasi minyak telah memicu kemungkinan adanya lonjakan harga minyak secara tak terduga.

"Sejumlah perusahaan dipaksa fokus pada dorongan produksi minyak dan distribusi pemegang saham untuk mengorbankan anggaran modal untuk mencari pemasok baru," ujar sejumlah analis Sanford C. Bernstein & Co. termasuk Neil Beveridge, seperti dilansir dari Bloomberg, Sabtu (7/7/2018).

Hal tersebut menyebabkan persediaan minyak di sejumlah produsen utama anjlok dan rasio investasi kembali industri terjun ke level terendah. Sehingga, memberi jalan bagi harga minyak untuk melampaui rekor yang dicapai 10 tahun lalu.

Sejumlah analis Bernstein mengungkapkan investor yang telah menelurkan tim manajemen untuk berkuasa di belanja modal dan mengembalikan uang tunai akan menyesalkan kurangnya investasi dalam industri. Seberapa pun penyusutan pasokan yang terjadi akan menghasilkan lonjakan tinggi pada harga minyak, bahkan berpotensi menyentuh US$150 per barel seperti pada 2008.

Perusahaan minyak terkemuka di dunia termasuk Royal Dutch Shell Plc dan BP Plc menavigasi kemerosotan harga pada 2014 dengan memangkas biaya operasional, menjual aset dan menagih utang agar bisa memuaskan investor dengan dividen yang besar.

Sementara itu, Exxon Mobil Corp. dihukum oleh para pemegang sahamnya pada awal tahun ini setelah menimbulkan kekecewaan dengan rencana anggaran belanja yang besar tapi keuntungannya sedikit.

Dalam laporan Sanford C. Bernstein & Co., kelebihan pasokan minyak global pada beberapa tahun terakhir telah menutupi kekurangan investasi yang cukup parah. Kemudian, harga minyak rebound ke level tertingginya pada lebih dari tiga tahun terakhir karena OPEC dan sekutunya mulai menahan produksi pada awal 2017 untuk memangkas kelebihan minyak global.

Para produsen itu sekarang menargetkan untuk memompa lebih banyak demi mendinginkan gejolak pasar. Tetapi, gangguan dari Libya dan Venezuela justru terus mendorong harga minyak naik.

Persediaan minyak pada tiga perusahaan minyak teratas dunia itu telah mengalami penurunan sebanyak 30% secara rata-rata sejak 2000. Hanya Exxon dan BP yang menunjukkan performa lebih baik karena terbantu oleh akuisisi.

Sementara itu, lebih dari 1 miliar orang diproyeksi berurbanisasi ke Asia dalam dua dekade ke depan sehingga akan mendorong permintaan mobil, perjalanan udara, kemacetan, dan plastik yang membutuhkan minyak dalam pembuatannya.

"Jika permintaan minyak terus meningkat hingga 2030 dan seterusnya, strategi pengembalian uang ke pemegang saham dan mengurangi investasi pada persediaan minyak hanya akan menabur benih baru untuk supercycle selanjutnya. Perusahaan yang memiliki kemampuan untuk produksi atau kemampuan untuk menyerap pasokan akan mendapat untung, sedangkan yang lain tidak dapat," ungkap Beveridge.

Harga minyak Brent pernah reli menyentuh level US$147 per barel pada 2008 karena adanya lonjakan permintaan, tapi pasokan minyak tidak tersedia dan ketidaksiapan produsen untuk memenuhi lonjakan harga seluruh komoditas yang memicu supercycle.

Pada penutupan perdagangan Jumat (6/7), harga minyak Brent tercatat berada sebesar US$77,11 per barel, turun tipis 0,36% atau 0,28 poin dari sesi sebelumnya. Adapun harga minyak West Texas Intermediate terkerek 1,18% atau 0,86 poin menjadi US$73,8 per barel.

Tag : Harga Minyak
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top