Penguatan Dolar AS Pacu Risiko Kredit Emerging Market

Penguatan dolar AS sejak pertengahan April telah membawa depresiasi tajam pada sejumlah mata uang dan penurunan nilai tukar mata uang asing di emerging market (EM) dan pasar perbatasan (frontier market), meningkatkan risiko kredit bagi mereka yang memiliki kebutuhan finansial eksternal dalam jumlah besar.
Mutiara Nabila | 28 Juni 2018 21:16 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Penguatan dolar AS sejak pertengahan April telah membawa depresiasi tajam pada sejumlah mata uang dan penurunan nilai tukar mata uang asing di emerging market (EM) dan pasar perbatasan (frontier market), meningkatkan risiko kredit bagi mereka yang memiliki kebutuhan finansial eksternal dalam jumlah besar.

Laporan Pelayanan Investor Moody’s pada Kamis (28/6/2018) meninjau paparan eksternal pada 40 EM dan pasar perbatasan dengan utang eksternal tertinggi, baik dalam dolar AS atau hubungannya dengan perkonomian masing-masing negara.

Sejumlah negara yang paling rentan terhadap penguatan dolar AS adalah Argentina, Ghana, Mongolia, Pakistan, Sri Lanka, Turki, dan Zambia. Adapun, Chili, Colombia, Indonesia dan Malaysia juga ditinjau.

“Negara dengan defisit akun terbesar, utang eksternal yang tinggi, dan utang pemerintah terhadap mata uang asing yang besar mendapat dampak paling besar dari penguatan dolar AS,” ujar Alastair Wilson, Direktur Pengelola Kelompok Risiko Sovereign di Moody’s Global, dikutip dalam laporannya, Kamis (28/6/2018).

Menurut dia, fluktuasi mata uang saat ini mencerminkan capital outflow atau penurunan inflow eksternal secara signifikan, kredit mereka negatif bagi sovereign dengan kebutuhan finansial eksternal yang besar.

EM menjadi sangat rentan terhadap lonjakan besar yang terjadi pada kondisi finansial eksternal pada waktu lalu. Pada 2014, Hungaria, Malaysia, Mongolia, dan Rusia menjadi negara yang mendapat guncangan terbesar pada kondisi finansialnya.

Setelah itu, Angola, Kenya, Indonesia, dan Sri Lanka menghadapi guncangan negatif yang cukup besar. Karena hal tersebut, Kenya, Mongolia, Sri Lanka, dan Zambia menjadi tetap rentan, menjadi rintangan besar untuk mengurangi ketergantungan pada pendanaan eksternal.

Brasil, China, India, Meksiko dan Rusia menjadi negara yang tidak terlalu rentan terhadap pengetatan kondisi finansial eksternal karena mereka sudah menurunkan ketergantungannya pada capital inflows eksternal.

Guncangan dalam waktu yang lama dan parah pada kondisi finansial eksternal akan memberikan implikasi pada kredit, terutama saat mereka menghasilkan erosi lebih lanjut pada buffer keuangan, meningkatkan likuiditas risiko dan/atau membawa metrik fiskal semakin tidak menguntungkan menjauhi prediksi Moody’s.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top