Faktor Eksternal Terus Menekan Posisi Rupiah

Rupiah tercatat semakin melemah pada perdagangan Kamis (28/6) seiring dengan adanya ketegangan pada sektor perdagangan global dan prospek kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
Mutiara Nabila | 28 Juni 2018 15:58 WIB
Uang rupiah. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah tercatat semakin melemah pada perdagangan Kamis (28/6) seiring dengan adanya ketegangan pada sektor perdagangan global dan prospek kenaikan suku bunga Amerika Serikat.

Pada perdagangan Kamis (28/6) tercatat rupiah melanjutkan pelemahannya, di pasar spot melemah 199 poin atau 1,4% ke level Rp14.378 per dolar AS dari penutupan sesi sebelumnya pada posisi Rp14.179 per dolar AS.

Dikutip Bisnis dalam laporannya, Analis FXTM Lukman Otunuga menyebutkan kedua faktor eksternal tersebut menjadi kombinasi yang mematikan bagi mata uang Emerging Market (EM).

Dolar AS terkerek oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik, membuat minat terhadap mata uang berisiko semakin melemah.

“Perhatian investor akan tertuju pada rapat kebijakan Bank Indonesia [BI] hari ini [Kamis, 28/6] untuk melihat apakah BI akan kembali meningkatkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin lagi. Karena depresiasi rupiah terutama terjadi karena faktor eksternal, BI mungkin memperketat kebijakan lagi untuk membantu mata uang domestik,” kata Otunuga, dikutip Bisnis dalam laporannya, Kamis (28/6/2018).

Adapun, penguatan dolar AS menyebabkan kerugian parah pada sektor komoditas emas. Harga emas semakin anjlok ke level terendahnya sepanjang 2018 walaupun ketegangan perdagangan global mengganggu selera risiko dan seharusnya meningkatkan minat pada komoditas emas.

“Ini menimbulkan pertanyaan apakah emas telah kehilangan pesona safe haven,” lanjut Otunuga.

Harga emas spot tercatat turun 1,64 poin atau 0,13% enjadi US$1.250,71 per troy ounce dari penutupan perdagangan sesi sebelumnya. Harga emas spot selama tahun berjalan tercatat turun 4%.

Selain itu, harga emas Comex turun 2,60 poin atau 0,21% menjadi US$1.253,50 per troy ounce. Emas Comex tercatat mengalami penurunan harga sejauh 4,32% sepanjang tahun ini.

Otunuga menuturkan, pergerakan harga emas menunjukkan bahwa dolar AS yang semakin kuat dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS adalah faktor utama dalam melemahnya harga emas.

Dolar diprediksi tetap terangkat oleh ekspektasi yang semakin besar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya dua kali lagi tahun ini.

Oleh karena itu, emas dapat semakin terpukul walaupun pasar menghindari risiko. Dari aspek teknis, emas tetap sangat bearish di grafik harian dan mingguan.

Breakdown harga emas yang tegas di bawah US$1.250 per troy ounce dapat membuka jalan untuk menuju US$1.241 per troy ounce.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top