Backlog Penjualan Summarecon Agung (SMRA) Capai Rp5 Triliun

Emiten properti PT Summarecon Agung Tbk. masih mengantongi backlog atau invesntaris properti yang belum diserahkan kepada konsumen senilai lebih dari Rp5 triliun yang akan menjadi bagian pendapatan dalam 2 hingga 3 tahun ke depan.
Emanuel B. Caesario | 20 Juni 2018 20:56 WIB
Summarecon - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten properti PT Summarecon Agung Tbk. masih mengantongi backlog atau invesntaris properti yang belum diserahkan kepada konsumen senilai lebih dari Rp5 triliun yang akan menjadi bagian pendapatan dalam 2 hingga 3 tahun ke depan.

Jemmy Kusnadi, Sekretaris Perusahaan Summarecon Agung, mengatakan bahwa backlog tersebut tersebar di berbagai proyek perseroan, yakni di Serpong, Bekasi, Bandung, Kelapa Gading, dan Karawang. Perseroan banyak memasarkan unit properti dengan harga di bawah Rp2 miliar.

Perseroan berkomitmen untuk memastikan setiap proyek yang dipasarkan perseroan dapat sampai ke tangan konsumen tepat waktu. Selain itu, perseroan juga menyiapkan berbagai strategi untuk memastikan proye-proyek yang telah diluncurkan perseroan dapat terserap oleh pasar seoptimal mungkin.

Backlog kami saat ini ada di atas Rp5 triliun,” katanya belum lama ini.

Adrianto Adhi, Direktur Utama Summarecon Agung, mengatakan bahwa strategi perseroan untuk memastikan terserapnya produk perseroan yakni menyesuaikan diri dengan tren pasar. Saat ini, permintaan terbesar masih berasal dari kalangan pengguna akhir, sehingga perseroan banyak menjual unit harga di bawah Rp2 miliar.

Selain itu, perseroan juga memudahkan skema pembayaran, di antaranya cicilan uang muka hingga 18 kali. Perseroan juga mulai memasuki pasar baru di Sulawesi, yakni Makassar.

Meskipun backlog masih cukup tinggi, emiten dengan kode saham SMRA ini akan tetap konsisten meluncurkan proyek baru, menyesuaikan dengan permintaan pasar. Perseroan menargetkan nilai pemasaran tahun ini akan mencapai Rp4 triliun, walaupun hingga Mei lalu baru terealisasi Rp1 triliun.

Strategi penjualan perseroan masih lebih banyak menyar pembeli perseorangan atau ritel. Perseroan belum memiliki rencana penjualan porsi besar atau bulk sales, yang mana bagi sebagian pengembang lain sudah menjadi stretegi utama untuk memacu penjualan di tengah ketatnya kompetisi saat ini.

Tag : kinerja emiten, summarecon agung
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top