Sejumlah Perusahaan Tunda IPO, Ini Penyebabnya!

Tren negatif yang menimpa pasar modal selama beberapa pekan terakhir turut mempengaruhi kebijakan perusahaan yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tegar Arief | 16 Mei 2018 18:30 WIB
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Tren negatif yang menimpa pasar modal selama beberapa pekan terakhir turut mempengaruhi kebijakan perusahaan yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sejumlah perusahaan telah memutuskan untuk menunda initial public offering (IPO) karena anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG). Penundaan ini dilakukan sampai kondisi pasar stabil sehingga harga saham yang dilepas dapat menarik pasar.

Laksono Widodo, Direktur Mandiri Sekuritas mengatakan sejauh ini dua perusahaan yang menjadi klien memutuskan untuk menunda pelaksanaan penawaran umum saham perdana. Bahkan, salah satu perusahaan menunda IPO sampai tahun depan.

"Ada dua yang menunda IPO, salah satunya ditunda sampai semester II/2018 satunya lagi ditunda sampai tahun depan. Ini karena kondisi market yang memang sedang turun," kata dia di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/5/2018).

Namun Laksono tidak bersedia untuk menyebutkan kedua peruahaan yang menunda IPO tersebut. Yang pasti, kata dia, keduanya memang belum melakukan mini expose ke jajaran direksi bursa.

Dia menambahkan, kondisi market belakangan memang mempengaruhi kebijakan perusahaan untuk melantai di bursa. Misalnya adalah saham yang dilepas saat IPO menggunakan harga bawah.

"Kalau porsi persentase yang dilepas tidak ada perubahan. Paling yang berubah hanya mereka menggunakan harga bawah. Market semua behini, jadi menjaga batas bawah," jelasnya.

Penundaan IPO juga dilakukan oleh perusahaan yang telah melakukan mini expose di bursa. Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat mengatakan, saat ini ada satu perusahaan yang memutuskan untuk menunda IPO yakni PT Wahana Vinyl Nusantara, produsen pipa merek Rucika.

Sebelumnya, dua perusahaan juga menyatakan untuk membatalkan IPO yakni PT Artajasa Pembayaran Elektronis yang merupakan cucu usaha PT Indosat Tbk., dan PT Harvest Time, cucu usaha dari PT Hanson International Tbk.

"Artajasa alasannya karena ada hambatan di Peraturan BI, kemudoan harvest karena ada persoalan. Sedangkan Rucika itu kemungkinan karena kondisi market," kata dia.

Syarat kepemilikan asing dalam sebuah perusahaan menjadi salah satu kendala bagi perusahaan untuk IPO, di mana pemerintah mensyaratkan porsi kepemilikan asing untuk bisnis sektor ini maksimal sebesar 20%.

Sementara itu, jika melantai di bursa, maka kepemilikan saham akan sangat liar karena mekanisme jual beli terjadi setiap saat. Ada kekhawatiran perseroan tidak bisa menjaga kepemilikan asing, sehingga bisa dianggap melanggar regulasi.

Adapun Harvest menunda IPO karena beberapa waktu lalu terjerat masalah hukum. Harvest Time dituntut bersama Maria Sopiah oleh PT Equator Majapura Raya, PT Equator Kartika dan PT Equator Satrialand Development dengan tuntutan ganti rugi Rp1,16 triliun.

Sementara itu, berdasarkan catatan Bisnis, PT PG Rajawali I belum lama ini juga memutuskan untuk menunda IPO hingga semester I/2019. Alasannya perseroan melakukan pemantapan persiapan aksi korporasi dan menunggu konfirmasi dari Komite Privatiasasi BUMN terkait kelayakan PG Rajawali untuk IPO.

Samsul menjelaskan, selain perusahaan bermasalah, satu-satunya faktor yang bisa menyebabkan perusahaan untuk membatalkan atau menunda pelaksanaan IPO adalah adanya keraguan di kalangan investor.

"Rencana IPO sudah disusun bertahun-tahun, dan biasanya ada investor yang berminat. Kecuali investor merasa tidak sanggup dengan kondisi pasar seperti ini mungkin akan ragu. Tapi kalau investor yakin IPO tetap jalan," jelasnya.

Menurutnya, penurunan indeks hanya disebabkan oleh persepsi negatif dari kondisi ekononmi dan keamanan nasional. Dari sisi ekonomi, nilai tukar rupiah terus tertekan dan dari sisi keamanan terjadi teror bom dalam beberapa hari terakhir.

Hal inilah yang mempengaruhi kebijakan investor untuk melakukan aksi jual sehingga mempengarui pergerakan indeks. Namun Samsul menilai kondisi market masih reguler, belum mengalami penurunan ekstrim seperti yang terjadi pada 2008 silam.

"Market saat ini masih diimbangi masuknya investor untuk mengambil saham-saham yang turun. Dan ini bukan kondisi ekstrim, ini masih normal," tegasnya.

Sementara itu, dari tiga perusahaan sekuritas yang dihubungi Bisnis.com, semuanya mengklaim masih mengantongi mandat IPO sesuai jadwal. Namun demikian perusahaan sekuritas terus memantau perkembangan pasar modal dan berharap minat IPO tetap tinggi.

"Sampai saat ini belum ada yang menunda IPO. Tapi kami tetap memonitor terus perkembangan ke depan," kata Managing Director Danareksa Sekuritas Boumediene Sihombing.

Hal yang sama juga dialami oleh PT MNC Sekuritas. Direktur Utama MNC Sekuritas Susy Meilina mengklaim sejauh ini perusahaan yang akan ditangani untuk melakukan IPO tetap berjalan sesuai jadwal.

"Kami tetap jalan terus. memang market kurang kondusif dan saya dengar ada yang menunda IPO. Tapi kami tetap berjalan sesuai jadwal," tegasnya.

Ferry Budiman Tanja, Direktur Utama PT Ciptadana Sekuritas Asia mengatakan tahun ini pihaknya menangani tiga IPO perusahaan. Beruntung, kata dia, ketiganya telah melakukan pencatatan saham di bursa. "Tidak ada penundaan."

Tag : ipo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top