Terregra Asia Energy (TGRA) Siapkan Surat Utang Rp500 Miliar

Emiten yang bergerak di bidang bisnis Energi Baru Terbarukan (EBT) PT Terregra Asia Energy Tbk. (TGRA) mempertimbangkan menerbitkan surat utang senilai Rp500 miliar pada semester II/2018 untuk menambah belanja modal.
Hafiyyan | 14 Mei 2018 13:41 WIB
Mahasiswa berjalan di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten yang bergerak di bidang bisnis Energi Baru Terbarukan (EBT) PT Terregra Asia Energy Tbk. (TGRA) mempertimbangkan menerbitkan surat utang senilai Rp500 miliar pada semester II/2018 untuk menambah belanja modal.

Wakil Direktur Utama Terregra Asia Energy Lasman Citra menyebutkan, sampai dengan 2023 perusahaan menargetkan pengoperasian pembangkit listrik sekitar 500 MW. Total belanja modal yang dibutuhkan sampai 5 tahun ke depan itu mencapai US$1 miliar.

TGRA juga sudah meminta persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menambah modal melalui surat utang sampai dengan Rp500 miliar. Namun, bentuk surat utang seperti obligasi, obligasi konversi (convertible bond), ataupun medium term notes (MTN) akan dibahas lebih lanjut.

"Kami mempertimbangkan menerbitkan surat utang di dalam negeri sampai Rp500 miliar. Tapi bentuknya [surat utang] ini masih dibahas," tuturnya setelah acara paparan publik, Jumat (11/5/2018).

Dalam rencana perusahaan, TGRA sedang mengerjakan 11 proyek berkapasitas 445 MW yang mencakup 9 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Sumatera Utara dan 2 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang tersebar di Aceh. Ada 4 PLTMH yang ditargetkan selesai pada 2019, yakni Batang Toru 3 (10 MW), Sisira (9,8 MW), Raisan 1 (7 MW), Raisan 2 (7 MW).

Di samping itu, melalui anak usahanya Terregra Renewables Pty. Ltd., perusahaan merintis pengembangan 6 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Australia berkapasitas total 29 MW. Sekitar 5 MW-- 10 MW diharapkan rampung pada semester II/2018.

Lasman mengungkapkan, ada dua alasan perusahaan ekspansi ke Australia, yakni regulasi setempat yang mendukung penggunaan EBT dan potensi radiasi matahari yang lebih bagus. Di Indonesia penyerapan energi matahari untuk PLTS secara efektif berkisar 4--5 jam, sedangkan di Australia mencapai 6--7 jam.

"Selain itu, di sana tingkat polusi lebih rendah, sehingga penyerapan matahari lebih efektif. Tarifnya juga bagus," ujarnya.

Menurutnya, pengembangan PLTS hanya membutuhkan waktu 3--6 bulan, sehingga perusahaan bisa mendulang untung lebih cepat sambil mengerjakan proyek PLTMH dan PLTA yang baru beroperasi pada tahun depan.

Namun demikian, manajemen TGRA memberikan batasan ekspansi PLTS di Australia maksimal 50 MW, karena perusahaan memilih fokus mengembangkan bisnis di Indonesia. Pasalnya, potensi bisnis EBT di dalam negeri sangat besar.

Selain proyek berskala jumbo, TGRA mulai mengembangkan PLTS skala kecil untuk rooftop dengan daya < 1MW di Indonesia Timur. Dua properti yang akan dibuatkan PLTS ialah hotel dan pusat perbelanjaan.

"Juni-Agutus 2018 akan kita umumkan soal pengembangan PLTS rooftop di Bali. Yang masih dalam tahap diskusi lebih dari 10 proyek [PLTS rooftop]," paparnya.

Secara total, pada 2018 perusahaan mengalokasikan belanja modal Rp522 miliar untuk proyek di Batang Toru, Sisira, Australia, dan Indonesia Timur.

Tag : kinerja emiten, PT Terregra Asia Energy Tbk.
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top