Kuartal II/2018, Dolar AS Diprediksi Rebound Hingga 3%

Sejumlah analis melihat adanya penguatan pada dolar AS setelah berhasil mencapai level tertinggi dalam 3 bulan pada Senin (23/4) yang dipicu oleh meningkatnya imbal hasil treasury AS dan munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) lebih dari 3 kali selama 2018.
Eva Rianti | 24 April 2018 13:33 WIB
Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018)./ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah analis melihat adanya penguatan pada dolar AS setelah berhasil mencapai level tertinggi dalam 3 bulan pada Senin (23/4) yang dipicu oleh meningkatnya imbal hasil treasury AS dan munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) lebih dari 3 kali selama 2018.

Dilansir dari Bloomberg,  greenback berhasil mencapai level tertinggi dalam tiga bulan karena imbal hasil treasury AS bertenor 10 tahun naik mendekati level psikologis 3%, sebuah tanda yang oleh sebagian pengamat berpotensi membuka pintu ke level yang lebih tinggi.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia ditutup di level 90,91 pada Senin (23/4). Terpantau pada perdagangan Selasa (24/4) pukul 09.23 WIB, greenback melanjutkan penguatan menuju level 91,01.

Dolar berhasil rebound setelah sebelumnya sempat menyentuh area negatif dalam beberapa bulan terakhir untuk pertama kalinya sejak 2016.

“Diperkirakan, dolar AS akan rebound 2%—3% pada kuartal ini,” kata Ugo Lancioni, Head of Global Currency di Neuberger Berman Group LLC.

Lancioni memprediksi kekuatan dolar yang terbaik diekspresikan terhadap euro, dengan kesenjangan hasil antara AS dan tingkat short—end Jerman yang cenderung mendukung dolar.

“Kondisi ini adalah berita baik untuk investor bertaruh pada rebound dolar,” ujar Chief Executive Officer Eurizon SLJ Capital Stephen Jen.

Senada, Jen juga mengekspektasikan dolar pulih terhadap mata uang seperti euro pada kuartal ini, mengingat bahwa greenback dinilai tidak lagi overvalued dan memandang fundamental ekonomi AS tetap kuat.

Menurut Jen, meskipun pemulihan ekonomi global telah mendorong euro melawan greenback, tingkat pertumbuhan Eropa diprediksi siap melambat.

Laporan resmi menunjukkan Purchasing Manager Index (PMI) zona euro tidak berubah untuk April mengisyaratkan bahwa pertumbuhan di wilayah tersebut akan terus berlanjut, kendati pada kecepatan yang lebih lambat.

Namun, mantan ekonom di Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan The Federal Reserve ini tidak cukup optimistis pada reli greenback.

“Hanya karena yield US treasury 10 tahun melayang lebih tinggi tidak berarti dolar dapat reli, tetapi saya pikir pada titik ini kita memiliki situasi di mana dolar dapat didukung dengan baik,” lanjutnya.

Jen menuturkan, China dan negara-negara Asia lainnya kemungkinan akan enggan membiarkan mata uang mereka terdepresiasi, mengingat adanya fokus pembaharuan administrasi Trump pada manipulasi valuta asing.

Sumber : Bloomberg

Tag : dolar as, Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top