IHSG Menguat Pada Akhir Sesi I Bersama Bursa Asia

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (19/4/2018), di tengah penguatan bursa Asia.
Renat Sofie Andriani | 19 April 2018 13:13 WIB
Karyawati mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (19/4/2018), di tengah penguatan bursa Asia.

IHSG menguat 0,22% atau 13,84 poin ke level 6.333,85 di akhir sesi I, setelah dibuka dengan kenaikan tipis 0,02% atau 1,22 poin di level 6.321,22.

Adapun pada perdagangan Rabu (18/4), IHSG berhasil membukukan rebound dan berakhir menguat 0,54% atau 34,24 poin di level 6.320.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran level 6.319,58 – 6.336,93. Sebanyak 196 saham menguat, 128 saham melemah, dan 251 saham stagnan dari 575 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Tujuh dari sembilan indeks sektoral IHSG menetap di zona hijau dengan support utama sektor tambang (+1,52%) dan aneka industri (+0,76%). Adapun sektor finansial dan perdagangan masing-masing turun 0,09% dan 0,05%.

Mayoritas indeks saham lainnya di Asia Tenggara ikut menguat siang ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (+1,22%), indeks FTSE Malay KLCI (+0,47%), dan indeks SE Thailand (+0,97%). Adapun indeks PSEi Filipina terpantau anjlok 3,18%.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 masing-masing naik 0,35% dan 0,23%. Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,24% dan indeks Hang Seng Hong Kong menguat 1,42%.

Sementara itu, di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing menguat 1,05% dan 1,38%.

Dilansir Bloomberg, bursa saham Asia naik ke level tertinggi dalam sebulan dan ukuran volatilitas terus menurun di tengah optimisme bahwa pertumbuhan global dapat mengatasi dampak tensi perdagangan.

Kinerja perusahaan-perusahaan energi menanjak di AS dan Asia, menyusul sebuah laporan industri yang menunjukkan turunnya persediaan minyak mentah.

Di sisi lain, nilai tukar yen tergelincir di tengah sentimen positif investor serta setelah Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sepakat untuk bekerja sama dalam perdagangan bilateral.

“Dinamika terbesar di pasar saat ini adalah tentang pertumbuhan,” Sandip Bhagat, chief investment officer di Whittier Trust Co. kepada Bloomberg TV.

“Kita berada di tengah-tengah pemulihan global yang tersinkronisasi dalam pertumbuhan sementara laba korporasi meningkat. Kekhawatiran perang perdagangan, tarif, dan inflasi hanya sekadar gangguan,” katanya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top