Anomali Saham Express (TAXI), Ini Tanggapan Petinggi Grup Rajawali

Pergerakan di luar batas normal saham PT Express Transindo Utama Tbk. yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir terus menjadi perhatian Bursa Efek Indonesia. Kemarin (21/3), BEI melakukan suspensi saham perusahaan penyedia layanan taksi tersebut.
Dara Aziliya | 21 Maret 2018 19:49 WIB
Pengemudi taksi Express menunggu penumpang di pool taksi Bandara Soekarno-Hatta, di Tangerang, Banten, Selasa (20/3/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan di luar batas normal saham PT Express Transindo Utama Tbk. yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir terus menjadi perhatian Bursa Efek Indonesia. Hari ini (21/3/2018), BEI melakukan suspensi saham perusahaan penyedia layanan taksi tersebut.

Sepanjang tahun berjalan, saham perusahaan taksi milik Peter Sondakh tersebut telah melonjak 340,0% ke level Rp220. Pada pembukaan perdagangan awal tahun ini, harga saham TAXI berada pada level Rp50 per lembar.

Kendati demikian, meski meningkat tajam, perbandingan harga saham dengan laba bersih perusahaan atau price earning ratio (PER) emiten dengan kode saham TAXI tersebut memang terbilang sangat rendah, yaitu minus 1,68 kali.

Lonjakan saham TAXI juga menjadi perhatian karena dalam beberapa tahun terakhir, kinerja finansial perusahaan grup Rajawali Corpora tersebut meredup. Express Transindo yang pernah menjadi armada terbesar kedua nasional, tidak siap menghadapi persaingan dengan taksi daring (online).

Beberapa rumor muncul terkait dengan pergerakan harga saham TAXI. Pertama misalnya, Go-Jek atau PT Aplikasi Karya Anak Bangsa disebut-sebut akan melakukan backdoor listing dengan menumpang Express. Isu ini lalu dibantah oleh Direktur Utama PT Express Transindo Utama Tbk., Benny Setiawan.

Kedua, sempat pula muncul rumor yang menyebut akan ada perusahaan yang akan mengakuisisi 100% saham TAXI. Di kalangan Analis pasar, beberapa mengakui ada isu berhembus bahwa Rajawali Corpora akan menjual Express.

Merespons berbagai rumor tersebut, Managing Director Corporate Affairs Rajawali Corp. Satrio Tjai mengungkapkan sejauh ini, perusahaan tidak memiliki rencana untuk melepas PT Express Transindo Utama.

“Belum ada rencana [untuk melepas TAXI],” ungkap Satrio pada Bisnis.com, Rabu (21/3).

Satrio yang juga merupakan Komisaris Express menyampaikan manajemen akan terus mendorong TAXI untuk melakukan pembenahan internal. Satri menambahkan, Express masih akan prospektif karena baru-baru ini pemerintah menerbitkan regulasi yang menurutnya supportive untuk bisnis taksi regular.

“Kami melihat dari sisi factor eksternal, regulasi pemerintah membaik. Artinya, peraturan sudah memberikan level playing field yang berimbang baik untuk taksi regular maupun taksi online,” terang Satrio.

Berdasarkan laporan keuangan TAXI yang dipublikasikan perusahaan, selama periode Januari—September 2017 perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp231,62 miliar atau anjlok 121,3% dibandingkan capaian pada periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp512,57 miliar.

Selain itu, pada periode yang sama perusahaan mencatatkan rugi usaha sebesar Rp157,92 miliar, setelah pada periode sama tahun sebelumnya mencatatkan laba sebesar Rp46,29 miliar.

Kepala Riset Koneksi Kapital Sekuritas Alfred Nainggolan menyampaikan dalam 2 tahun terakhir, manajemen TAXI tidak memiliki terobosan untuk dapat menguasai persaingan. Padahal, dalam bisnis taksi, perusahaan seharusnya menghargai nilai asset yang dimiliki.

“Harus ada usaha meningkatkan utilisasi asset perusahaan. Kalau asetnya tidak digunakan maksimal, akan mengalami penurunan nilai. Dalam dua tahun terakhir belum ada perubahan, padahal dari sisi asset, nilainya terus mengalami penurunan,” ungkap Alfred.

Dia menilai wajar jika perusahaan memutuskan untuk diambil alih oleh entitas lain, daripada harus menahan konsekuensi penurunan nilai valuasi asset di tengah kondisi finansial yang sulit.

Tag : taksi express
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top