Masih Rentan Profit Taking, IHSG Melemah di Akhir Sesi I

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (21/2/2018), hari kedua pasca mencetak rekor terbarunya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 21 Februari 2018  |  12:34 WIB
Masih Rentan Profit Taking, IHSG Melemah di Akhir Sesi I
Pengunjung melintas di gedung Bursa efek Indonesia Jakarta, Kamis (11/1). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (21/2/2018). Ini merupakan pelemahan hari kedua pasca mencetak rekor terbarunya.

IHSG melemah 0,30% atau 20,32 poin ke level 6.642,56 di akhir sesi I, setelah dibuka turun 0,21% atau 13,70 poin di posisi 6.649,18.

Adapun pada perdagangan Selasa (20/2), IHSG berakhir melemah 0,39% dan ditutup di level 6.662,88, tergelincir dari level tertinggi sepanjang masa yang dibukukan pada akhir perdagangan Senin (19/2).

Sepanjang perdagangan hari ini IHSG bergerak pada kisaran 6.642,16 - 6.665,89. Sebanyak 168 saham menguat, 163 saham melemah, dan 241 saham stagnan dari 572 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Empat dari sembilan indeks sektoral IHSG bergerak negatif dengan tekanan utama sektor finansial (-0,80%) dan properti (-0,60%). Adapun lima sektor lainnya bergerak positif dipimpin pertanian yang menguat 1,67%.

Profindo Sekuritas Indonesia memprediksi IHSG akan bergerak kembali melemah. Analis Profindo Sekuritas Indonesia Yuliana mengatakan IHSG ditutup melemah akibat profit taking pada perdagangan Selasa (20/2).

Dipaparkan, indeks ditutup berada pada level upper bollinger band dan membentuk bearish harami candlestick pattern yang mengindikasikan potensi koreksi lanjutan.

Indikator stochastic menunjukkan akan deadcross di area jenuh beli dengan MFI bergerak turun sedangkan momentum RSI positif.

“Kami perkirakan indeks kemungkinan masih akan mengalami pelemahan dikarenakan kekhawatiran akan terjadinya profit taking dengan range pergerakan di support 6.607 dan resistance 6.693,” tulisnya dalam riset.

Sementara itu, mayoritas indeks saham lainnya di Asia Tenggara terpantau menguat siang ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (+0,86%), indeks SE Thailand (+0,24%), dan indeks FTSE Malay KLCI (+0,13%). Adapun indeks PSEi Filipina turun 0,68%.

Dilansir Bloomberg, sejumlah bursa saham di Asia bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini menyusul pelemahan kinerja bursa saham di Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (20/2).

Seperti diberitakan, indeks Dow Jones dan S&P 500 melemah pada perdagangan Selasa (20/2) karena penurunan tajam di saham Walmart.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 254,63 poin atau 1,01% di level 24.964,75, indeks Standard & Poor’s 500 melemah 15,96 poin atau 0,58% di level 2.716,26, sedangkan Nasdaq Composite turun 5,16 poin atau 0,07% di 7.234,31.

Adapun indeks MSCI Asia Pacific hari ini turun 0,1% pada pukul 1.10 siang waktu Tokyo, sedangkan indeks Topix turun 0,4% dan indeks Nikkei 225 Stock Average turun 0,2%.

Pasar selanjutnya akan mencermati risalah rapat kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve (FOMC minutes) pada 30-31 Januari yang akan dirilis hari ini waktu setempat. Rapat tersebut merupakan rapat terakhir yang dipimpin Janet Yellen sebagai Gubernur The Fed, dimana saat itu diputuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top