Euro Melemah di Tengah Ketidakpastian Politik, Dolar AS Naik

Pergerakan indeks dolar AS mampu menguat pada perdagangan pagi ini, Selasa (20/2/2018), meski masih dihantui kekhawatiran seputar menggelembungnya defisit fiskal di Amerika Serikat sehingga dapat menghambat perekonomian.
Renat Sofie Andriani | 20 Februari 2018 11:30 WIB
Uang dolar AS. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan indeks dolar AS mampu menguat pada perdagangan pagi ini, Selasa (20/2/2018), meski masih dihantui kekhawatiran seputar menggelembungnya defisit fiskal di Amerika Serikat sehingga dapat menghambat perekonomian.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama menguat 0,31% atau 0,275 poin ke level 89,375 pada pukul 10.35 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan kenaikan 0,140 atau 0,16% poin di level 89,240, setelah pada perdagangan Senin (19/2) berakhir stagnan di posisi 89,100.

Dilansir Reuters, greenback telah melemah dalam beberapa bulan terakhir, dengan dorongan positif dari kenaikan suku bunga AS yang diimbangi oleh rentetan faktor bearish.

Awalnya, pandangan bahwa sejumlah bank sentral di negara lain akan mengikuti langkah pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS The Federal Reserve tahun ini, digunakan sebagai alasan untuk menurunnya kinerja dolar AS.

Kemudian muncul komentar dari Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, yang memicu kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat melancarkan kebijakan dolar yang lebih lemah karena defisit perdagangannya naik ke level tertinggi dalam hampir satu dekade.

Meningkatnya kekhawatiran tentang defisit anggaran AS, yang diproyeksikan akan menggelembung menjadi lebih dari US$1 triliun pada 2019 di tengah pengeluaran pemerintah dan pemotongan pajak perusahaan secara besar-besaran, juga telah membebani greenback.

“Dolar terus turun, namun dengan perubahan sentimen. Saat ini, penurunan pembelian obligasi Fed dan defisit fiskal AS menjadi fokus utama. Itu berarti imbal hasil jangka panjang AS akan tetap tinggi sementara dolar akan tetap murah,” kata Daisuke Uno, pakar strategi di Sumitomo Mitsui Bank.

Penguatan dolar AS pagi ini cenderung ditopang pelemahan sejumlah mata uang utama lain. Nilai tukar yen lanjut terdepresiasi 0,20% atau 0,21 poin ke posisi 106,80 per dolar AS pada pukul 10.45 WIB, setelah pada Senin (19/2) berakhir melemah 0,36% di posisi 106,59.

Adapun nilai tukar euro hari ini terpantau turun 0,20% ke US$1.2382 pada pukul 10.45 WIB, setelah sempat menguat ke US$1.2407 pada sesi perdagangan sebelumnya.

Ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan mengurangi stimulus kebijakan moneternya telah menjadi pendorong utama terhadap reli mata uang euro sejak tahun lalu.

Namun, dalam jangka pendek, investor kemungkinan khawatir mengenai pembelian mata uang bersama (common currency) tersebut di tengah ketidakpastian politik di Uni Eropa.

Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) dijadwalkan akan memulai voting dengan surat suara pada hari ini waktu setempat, mengenai apakah partai kiri tengah tersebut harus melanjutkan kesepakatan yang dipegang para pemimpinnya pekan lalu untuk memperbarui aliansi pembagian kekuasaan mereka dengan Kanselir Angela Merkel dari kubu Konservatif.

 

Posisi indeks dolar AS                                       

20/2/2018

(Pk. 10.35 WIB)

89,375

(+0,31%)

19/2/201

89,100

(0%)

16/2/2018

89,100

(+0,57%)

15/2/2018

88,593

(-0,59%)

14/2/2018

89,121

(-0,65%)

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg

Tag : dolar as, euro
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top